Balada Trenggiling, disebut sebagai ‘penyebab’ Corona hingga Jadi ‘Kunci’ Berakhirnya Pandemi

Sempat diduga menjadi ‘tersangka’ hewan yang menularkan novel coronavirus ke manusia, namun hasil penelitian terbaru menyebutkan trenggiling bisa menjadi petunjuk besar untuk mengakhiri pandemi global Covid-19.

SISIBAIK.ID – Wabah coronavirus sudah menelan lebih dari 1.000 korban jiwa dan menimbulkan sekitar 40.000 kasus secara global. Namun hingga kini belum diketahui bagaimana penyebarannya.

Coronavirus merupakan zoonosis, yaitu penyakit dan infeksi yang berasal dari hewan vertebrata yang dapat menular ke manusia.

Penularan virus dari hewan ke manusia sebenarnya cukup jarang terjadi. Akan tetapi, pada beberapa kasus, seperti SARS dan MERS-CoV, zoonosis menjadi dalang dibalik wabah penyakit tersebut.

Mirip dengan SARS dan MERS-CoV, novel coronavirus atau 2019-nCoV diduga berasal dari kelelawar. Sel virus yang ada pada kelelawar tersebut diduga berpindah ke trenggiling dan akhirnya dimakan oleh manusia.

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa daging dan sisik trenggiling diperjualbelikan di Wuhan, Tiongkok. Hal ini dikarenakan masyarakat Asia, terutama di Tiongkok, percaya bahwa makan daging trenggiling memberikan manfaat yang baik terhadap tubuh mereka.

Maka itu, trenggiling diduga menjadi salah satu ‘dalang’ dibalik wabah novel coronavirus. Walaupun demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut apakah molekul virus yang ditemukan pada trenggiling menjadi penyebab dari novel coronavirus.

Namun, penelitian terbaru yang dirilis para peneliti di Universitas Kedokteran Wina di Austria menyebutkan fakta sebaliknya. Menganalisis cetak biru genomik trenggiling, tim periset membandingkan mamalia bersisik tersebut dengan gen manusia, kucing, anjing, dan sapi.

Pada sebagian besar mamalia, ada gen tertentu yang bisa mendeteksi ketika virus memasuki tubuh, lantas memicu respons kekebalan. Akan tetapi, trenggiling ternyata tidak memiliki dua gen pengindera virus tersebut. Periset belum mengetahui apakah perbedaan itu yang melindungi trenggiling dari Covid-19 dan menyatakan butuh penyelidikan lebih lanjut.

Studi yang sudah dipublikasikan di jurnal Frontiers in Immunology edisi 8 Mei 2020 itu menjadi temuan awal yang penting untuk mempelajari perbedaan gen pada trenggiling dapat mengungkap kemungkinan perawatan untuk pasien Covid-19.

“Riset kami menunjukkan bahwa trenggiling bertahan hidup melalui jutaan tahun evolusi tanpa jenis pertahanan antivirus yang digunakan oleh semua mamalia lain,” kata salah satu penulis studi, Leopold Eckhart, dikutip dari laman Health 24.

Eckhart menyampaikan, studi lanjutan tentang trenggiling akan menguak bagaimana satwa itu bertahan hidup dari infeksi virus. Sementara pada manusia, corona justru menyebabkan respons imun inflamasi bernama badai sitokin, yang memperparah penyakit.

Eckhart menjelaskan, sistem kekebalan yang terlalu aktif itu dapat dimoderasi dengan mengurangi intensitas atau dengan mengubah waktu reaksi pertahanan. Oleh karena itu, obat yang menekan sinyal gen berpotensi menjadi pilihan pengobatan kasus kritis Covid-19.

Hanya saja, ada kendala lain, yakni obat penekan kekebalan bisa membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi berbeda. “Tantangan utama adalah mengurangi respons terhadap patogen dengan tetap mempertahankan kontrol yang memadai terhadap virus,” ujarnya.

Trenggiling merupakan hewan mamalia yang beraktivitas di malam hari dan hidup di daerah tropis seperti Afrika dan Asia. Hewan bersisik ini dikenal memiliki protein yang cukup padat, alias keratin. Apabila trenggiling merasa terancam, hewan ini akan menggulung diri mereka menyerupai bola. *