Gambir, Hasil Bumi Indonesia Primadona di Pasar Dunia

Gambir pewarna tekstil alami sebagai alternatif bagi pewarna sintetis.

SISIBAIK.ID – Gambir adalah salah satu komoditas perkebunan rakyat dan menjadi komoditas ekspor Indonesia yang diperoleh dari pengempaan daun dan ranting Uncaria gambir roxb.

Gambir merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang banyak dimanfaatkan sebagai obat.  Getah yang diambil dari tanaman ini memiliki beragam manfaat yang luar biasa bagi kesehatan manusia.

Kandungan gambir ini terdiri dari flavonoid (gambiirin), catechins (hingga 51 persen), zat penyamak (22-40 persen), serta sejumlah alkaloid. Zat di gambir terutama senyawa polifenol seperti catechins atau lazim dikenal sebagai katekin dan tanin yang kemudian memberikan nilai ekonomi. Karena dimanfaatkan sebagai bahan baku industri farmasi seperti pasta gigi, kosmetik, penyamakan kulit, pewarna, dan bahan industri makanan.

Indonesia menempati posisi yang sangat penting sebagai produsen gambir dengan kemampuan memasok 80 persen pasar dunia. Iklim di Indonesia yang tropis dengan curah hujan rata-rata 7-9 bulan per tahun dengan intensitas 2.000-3.000 milimeter (mm) per tahun serta luasnya lahan dataran rendah menjadi alasan terbaik bagi tumbuh suburnya gambir.

Gambir dapat berbiak subur di lahan berketinggian 100-500 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan maksimal 3.000 mm per tahun.

Ekspor utama gambir Indonesia adalah India. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, pada 2018 nilai ekspor gambir Indonesia mencapai 18.000 ton senilai total USD50 juta. Sebanyak 94 persen diekspor ke India untuk kebutuhan industri farmasi, astrigent lotion, dan zat penyamakan kulit.

Dalam lima tahun terakhir, permintaan gambir dari India berada pada kisaran 13.000-14.000 ton per tahun. Di India sebagian besar gambir digunakan sebagai pengganti katha yang diekstrak dari kayu khair (Acacia cathecu). Tanaman katha digunakan dalam industri pan masala dan gutkha yang merupakan produk yang dikonsumsi dengan cara dikunyah dan memiliki efek stimulan.

Menurut Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono, saat ini India sedang membatasi penebangan pohon khair sebagai upaya konservasi hutan. Kondisi tadi merupakan peluang bagi peningkatan ekspor tanaman gambir Indonesia menggantikan pohon khair.

Gambir memang memiliki kemiripan secara karakteristik dengan khair, tetapi memiliki kandungan fisikokimia (catechins) yang lebih besar.

Diversifikasi Produk Gambir

Sumatra Barat (Sumbar) menjadi sentra produksi gambir terbesar di Tanah Air dengan pasokan mencapai 80 persen dari kapasitas nasional. Data Asosiasi Komoditas Gambir Indonesia (AKGI) menyebutkan, setiap tahunnya para petani gambir di Bumi Minangkabau rata-rata mampu memanen 17.000 ton tanaman yang banyak dibudidayakan di Kabupaten Limapuluh Kota dan Pesisir Selatan ini.

Semula, komoditas gambir di pasar ekspor dihargai hingga Rp55.000 per kilogram (kg) pada 2016. Nilainya meroket ke tingkat Rp105.000 per kg setahun kemudian. Namun, perlahan sejak Maret 2018 harga gambir di pasar ekspor melandai di kisaran Rp33.000-Rp35.000 untuk tiap kg gambir.

Puncak dari anjloknya harga gambir dirasakan sejak Februari 2020 hingga awal Mei 2020 ketika tinggal Rp19.000 per kg. Apalagi 80 persen komoditas gambir dijual dalam bentuk bahan mentah dan sisanya berupa pelet daun gambir.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sumbar Ramal Saleh mengatakan, anjloknya komoditas perkebunan andalan wilayahnya ini karena merebaknya pandemi virus corona. Ramal yang juga Ketua Umum AKGI menyebut, tidak ada yang membeli gambir di pasar ekspor.

Terlepas dari masalah anjloknya harga dan masih tingginya ekspor gambir dalam bentuk bahan mentah, upaya diversifikasi terus dilakukan oleh berbagai pihak agar gambir makin memiliki nilai tambah. Salah satunya adalah upaya diversifikasi yang dilakukan Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri di Kota Padang. Lembaga ini berada di bawah Kementerian Perindustrian.

Pewarna Kain Alami

Sejak 2005, Baristand Industri Padang memulai penelitian terkait pemanfaatan limbah gambir untuk pewarna. Kemudian, mulai fokus meneliti gambir sebagai pewarna alami sejak 2011. Di awal 2019, proses pewarnaan tekstil dengan senyawa tanin dari gambir berhasil mendapatkan paten.

“Pewarna kain dari gambir memiliki ketahanan yang lebih baik dan tidak mudah luntur jika dibandingkan dengan pewarna alam lainnya,” kata Sofyan, salah satu peneliti Baristand Industri Padang.

Gambir dapat menghasilkan warna cokelat tua, cokelat kemerahan, dan hijau jika ditambahkan dengan zat pembangkit warna, tergantung jenis pembangkit warna yang digunakan. Selain itu, penggunaan gambir sebagai pewarna tekstil alami yang ramah lingkungan juga merupakan alternatif substitusi impor bagi pewarna sintetis yang digunakan oleh pelaku industri.

Pada 2012, Baristand Industri Padang mulai bekerja sama dengan industri kecil menengah (IKM) di wilayah Sumatra Barat untuk pewarnaan kain dan benang, antara lain, dengan IKM Batik Minang dan IKM Tenun Kubang.

Saat ini, riset terkait gambir tengah berfokus pada penelitian untuk menghasilkan pewarna yang siap pakai. Sehingga proses pewarnaan tekstil di industri dapat berjalan lebih praktis dan efisien.

Baristand Industri Padang juga telah memproduksi senyawa katekin dari gambir. Zat ini berguna sebagai antioksidan alami yang dapat dimanfaatkan oleh industri kosmetik, farmasi, maupun pangan. Hilirisasi produk dari tanaman gambir ini dapat menjadi substitusi impor katekin yang biasa digunakan oleh para pelaku industri kosmetik di dalam negeri.

Peneliti katekin dari Baristand Industri Padang, Gustri Yeni mengatakan, pihaknya berhasil membina dua IKM untuk melakukan produksi massal katekin dengan kapasitas produksi 20 kg per minggu. Kedua IKM ini bahkan sudah mendapatkan pelanggan tetap dari industri kosmetika yang membeli produk katekin dengan harga Rp800.000 hingga Rp1 juta per kg dan kadar kemurnian katekin hingga 80 persen.

Baristand Industri Padang juga telah berhasil membuat mesin untuk proses ekstraksi katekin gambir. Alat ini mampu mempersingkat jangka waktu ekstraksi hingga diperoleh katekin dalam bentuk bubuk atau kering. Melalui alat ini, waktu proses ekstraksi dapat dipersingkat dari semula tujuh hari menjadi hanya dua hari dengan kapasitas mencapai 5 kg bahan baku gambir.

Terlebih lagi, katekin yang dihasilkan dengan menggunakan alat ini cukup tinggi, yaitu berkadar 80-95 persen. Gustri meyakini bahwa alat buatan lembaganya dapat digunakan oleh para pelaku IKM untuk meningkatkan kemampuan produksi katekin mereka.***

Sumber: Indonesia