Tristan, Pangeran Lingkungan yang Sukses Beternak Maggot

Sejak Januari sampai hari ini sudah lebih dari 3 sampai 3,5 ton sampah organik yang dimakan maggot hasil budidaya Tristan.

SISIBAIK.ID – Tristan Kesyandria Ali Pasha memang masih remaja. Usianya baru 14 tahun. Namun, Tristan telah sukses menjadi entrepeneur bidang lingkungan. ABG ini sukses membudidayakan maggot, larva mengurai sampah, sehingga membantu pemerintah dalam mengelola sampah organik di daerahnya.

Maggot adalah bayi larva lalat black soldier fly yang mampu menguraikan sampah organik menjadi kompos dengan sangat cepat dalam jumlah besar.  Meski tubuhnya kecil, ribuan maggot ini bisa makan dua kali lebih banyak dari berat tubuhnya. Sebagai ilustrasi, setiap 50 kilogram maggot bisa menghabiskan sampah buah, nasi, dan sayuran berjumlah 100 kilogram!

Tristan mulai membudidayakan maggot pada bulan Januari 2020.  Proyek pembudidayaan maggot ini menjadi program andalan Tristan sebagai peserta Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2020 yang diadakan organisasi Tunas Hijau.

Rasa ingin tahu Tristan untuk meneliti sudah terasah saat dia mengikuti program Peneliti Moeda 41 di sekolahnya SMP Negeri 41 Surabaya. Melalui program tersebut, Tristan tak hanya belajar menentukan objek penelitian ilmiah, tapi juga jadi kader lingkungan yang belajar mengolah sampah di sekolah. SMP Negeri 41 Surabaya merupakan sekolah Adiwiyata Mandiri.

Awalnya, Tristan ingin membuat proyek lingkungan yang tak hanya bisa mengurangi sampah dengan cepat, tapi dari proyek tersebut juga bisa menghasilkan produk bermanfaat.

“Jadi awalnya saya beli telur BSF seberat 3 gram. Tiap 1 gram telur BSF itu bisa jadi 1,5 kilogram maggot. Dari hasil budidaya itu sekarang jumlah maggot saya jadi 135 kilogram,” kata Tristan.

Maggot sebanyak 135 kilogram itu dibagi Tristan jadi dua, 90 kilogram maggot jadi induk untuk dibudidayakan kembali, sedangkan 45 kilogram menjadi pakan lele.

“Karena ternyata maggot itu proteinnya tinggi. Jadi bisa bikin lele jadi lebih gurih dan enak rasanya,” kata Tristan yang baru naik ke kelas 9 SMP Negeri 41 Surabaya ini.

Untuk bisa terus memberi makan maggotnya, setiap hari Tristan mengambil jatah sampah organik di empat warung makan di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan bersama kedua orang tuanya Tristan juga melakukan gerebek pasar untuk membawa pulang sampah sayur dan buah.

Sejak bulan April 2020 hingga saat ini, Tristan sudah berhasil mengolah lebih dari 1.078 kilogram potensi sampah organik yang akan terbuang ke TPS.

“Awalnya target bisa mengolah 45 kilogram sampah. Alhamdulillah sejak Januari sampai hari ini sudah lebih dari 3 sampai 3,5 ton sampah organik yang dimakan maggot,” kata putra pasangan Rudi Arif Hermanto dan Ery Yuliana ini.

Bila diperhatikan, sampah buah, nasi, atau sayuran yang dimakan maggot ini dalam beberapa jam saja sudah berubah tekstur menjadi kompos dengan butiran halus berwarna hitam.

Tristan mengistilahkan sampah yang telah terurai tersebut sebagai KasGot alias bekas maggot. Keistimewaan KasGot ini bisa merangsang tumbuhnya tunas baru, serta tumbuhnya bunga dan buah pada tanaman. Untuk setiap kemasan KasGot seberat 250 gram, Tristan menjualnya dengan harga Rp 3.500.

KasGot yang digantung di atas kolam lele itu adalah hasil penguraian sampah oleh maggot. Maggot juga bisa menjadi alternatif pakan lele yang tinggi protein.

Selain KasGot, Tristan juga memanfaatkan lendir maggot sebagai PuCaGot atau pupuk cair maggot. Pupuk cair ini adalah campuran dari lendir maggot dan cairan fermentasi seperti leri, gula merah, dan air kelapa. Per botolnya dijual dengan harga Rp 5 ribu.

“Dari hasil budidaya itu juga berhasil bikin KasGot sampai 45 kilogram. Dan PuCaGot sampai 26 liter,” kata Tristan.

KasGot yang dijual dalam kemasa 250 gram dengan harga Rp 3.500 dan PuCaGot dengan harga Rp 5 ribu per botol.

Tristan mengaku, selama pandemi ini dirinya mengalami kendala dalam pengumpulan sampah organik. Dengan jumlah maggot sekitar 60-95 kilogram, maka sampah yang bisa dimakan maggot minimal 150 kilogram per hari.

“Selama PSBB banyak warung tutup, jadi sulit untuk mengumpulkan sampah. Semoga setelah ini pulih kembali,” kata Tristan yang bersama kedua orang tuanya pernah sama-sama menyabet Keluarga Zero Waste Terbaik tahun 2019.

Sumber: kumparan.com