Kuntum Khairu Basa, Pembela Kaum Disabilitas

Kecelakaan yang Kuntum Khairu Basa kehilangan kakinya menjadi energi baru dalam membela kaum marjinal. 

SISIBAIK.ID – Rembang bukan kota yang paling populer di Jawa Tengah. Tapi bagi Kuntum Khairu Basa, Rembang merupakan daerah yang punya makna menalam dalam kehidupannya.

Meski terlahir di Palembang, Sumatera Selatan, Kuntum sangat mencintai Rembang. “Ini jalur ekonomi strategis pesisir pesisir utara laut Jawa, ini tantangan sekaligus peluang untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Ini sekaligus mendukung visi maritim dan tol laut Presiden Jokowi seperti tradisi leluhur di masa lalu,” katanya.

Kecintaanya pada Rembang membuatnya terpanggil untuk membangun Rembang secara paripurana. Pada tahun 2015, Kuntum maju dalam pemilihan kepala daerah sebagai Calon Wakil Bupati. Tapi, hanya mampu menempati posisi kedua dati tiga kontestan yang bertarung.

Tragedi menjadi energi

Meski tak jadi orang nomor dua di Rembang, upaya membangun kota pesisir itu tak pernah surut. Berbagai inisiatif ia jalankan dengan mendampingi para nelayan dan petani. Sehingga para kaum nelayan dan petani bisa meningkatkan taraf hidupnya. Walhasil, perjalan dari Tangerang Selatan ke Rembang kerap dia lakukan untuk mendampingi para petani dan nelayan itu.

Dalam sebuah perjalanan rutin itu, pada Maret 2016 kecelakaan lalu-lintas menimpanya. Tragedi di Jalan Tol Cipali membuat kakinya harus diamputasi. 

Semangatnya dalam membela kaum marjinal tak pernah surut. Selang tiga bulan, Kuntum mendeklarasikan sayap organisasi partai Perindo yaitu Garda Rajawali Perindo (Grind). Dan acara pelantikan jajaran pengurusnya pun terbilang luar biasa. Para kaum muda pejuang itu dilantik di kawasan Bank Sampah. 

Menurut Kuntum Khairu Basa, dipilihnya kawasan Bank Sampah sebagai tempat pelantikan dikarenakan dia ingin terus dekat dengan masyarakat bawah. Kemudian peduli akan kebersihan yang merupakan kendala di tengah kehidupan masyarakat modern.

“Hari itu merupakan momentum sejarah bukan lantaran deklarasi Grind sebagai wadah politik untuk kamu muda. Sesungguhnya ini merupakan ikhtiar yang mengandung spirit idiologis untuk dapat membumikan perjuanagn politisi muda yang bercita-cita yang ingin mewujudkan Indonesia sejahtera,” katanya.

Ghirah perjuangannya terus membara. Kecelakaan lalu-linta yang membuatnya harus kehilangan satu kaki menjadi energi baru dalam berkarya. Selain membela kaum tani dan nelayan seperti yang dilakukan sebelumnya, alumni  Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, ini melirik kaum disabilitas.

“Ternyata banyak masalah yang dialami kaum disabilitas di negeri ini,” katanya.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) Periode 2010-2015 ini pun membawa isu-isu difabel ke ranah politik dan kebijakan. 

Menurut Kuntum, masalah utama kaum difabel adalah kesempatan kerja. “Masih sangat banyak yang meragukan dan tak mau menerima kaum ini untuk menjadi pegawainya. Maka perlu didorong dari sisi politik dan kebijakan, agar memberi peluang kami berkarya,” katanya.

Selain itu, sambung kandidat Doktor Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Islam Negeri Jakarta ini, kesempatan untuk mengakses modal usaha juga tidak semudah yang lainnya. 

“Masalah ini juga perlu dipecahkan. Karena banyak kaum disabilitas yang berwirausaha dan menghasilkan karya istimewa. Tapi kesulitan mengembangkan usahanya lantaran terbatasnya modal,” katanya.
Untuk itu, Kuntum pun menggedor setiap pintu lembaga keuangan untuk melirik para wirausahawan dari kaum di disabilitas. “Alhamdulillah banyak yang mau membantu,” katanya.

Motivator

Sejak diamputasi kaki kanan pasca Musibah Kecelakaan Tol Cipali 2016 KM 90, praktis menjadi penyandang disabilitas. Dan Kuntum pun  menjadi motivator penggerak semangat bagi semua kalangan, khususnya para pemuda Indonesia untuk bangkit dan tetap semangat terus berkontribusi secara positif terhadap bangsa dan negara.

“Dengan bekal pengalaman hidup yang saya miliki, saya coba sharing dengan kawan-kawan semua. Dan keterbatasan kita bukan menjadi penghambat untuk menjadi pemebel;a negeri,” katanya.

Menurut Kuntum, banyak kaum disabilitas yang punya bakat dan potensi. Tapi semuanya terpendam karena merasa punya keterbatasan. “Dengan saya ajak melihat dunia, dan bergerak bersama akhirnya mereka semua bangkit,” imbuhnya.  

Pada helatan Asian Para Games 2018 silam, Kuntum juga terlibat aktifa dalam mengobarkan semangat juang para atlet. “Dan ternyata mereka bisa mengharumkan nama bangsa di dunia,” katanya. 

Tak hanya di dunia olahraga, Kuntum juga menjadi menyemangat kaum disabilitas yang punya bakat seni. Pada tahun 2017 dia ajak mereka tampil dalam arena Pertunjukan Karya Seni Musik Anak-anak Autisme Indonesia. Bahkan membawa mereka pada Program DahSyat RCTI yang disiarkan secara live.

Pejuang sejak dini

Kegigihannya dalam berjuang ternyata sudah muncul sejak belia. Pada usia sepuluh tahun, Kuntum tel;ah berjuang mencari uang untuk bekal sekolahnya, Dia menjadi pedagang buah musiman di beberapa pasar di Kota Palembang.

“Saat musim rambutan ya jual rambutan. Saat musim pisang ya jual buah pisang dan daun pisang juga. apa saja yang ada dan bisa dijual saya bawa ke pasar,” katanya.

Pasar Kamboja, Pasar Palimo, dan Pasar Pahlawan di Kota Palembang menjadi tempatnya berjualan. “Itu saya lakukan sekitar emapt tahun, dari 1990 sampai 1994,” katanya.

Sebelumnya, antara tahun 1989 hingga 1994 Kuntum kecil sudah berusaha. Tapi dia tak berjualan secara langsung, melainkan menitipkan daganganya di kantin-kantin sekolah. 

“Ada kue sus, donat, pisang goreng, kacang goreng, kacang rebus, rempeyek, dan es kacang hijau. Saya titip di kantin-kantin sekolah subuh hari sebelum masuk sekolah lalu diambil kembali pada saat sore hari,” katanya. 

Adapun kantin-kantin skolah yang dia jelajahi adalah 

kantin IAIN Raden Fatah, SMAN.1, SMAN 3, Fakultas Kedokteran Unsri, MTsN. 1, MAN. I Pakjo, MAN .II, SMP N 3, dan SMAN 11 Pakjo Kota Palembang.

Tak puas hanya menitipkan jualan, Kuntum juga mengais rupiah menjadi  tukang semir sepatu dan penjual Koran. “Kalau ini dilakukan di kawasan Rumah Sakit Umum Palembang, Fakultas Kedokteran Unsri, IAIN Raden Fatah, dan Kantor Pengadilan Negeri. Sebelum berangkat dan sepulang Sekolah,” pungkasnya. 

Tak heran jika semangat juangnya membela kaum marjinal tak pernah surut. Lantaran sejak kecil sudah terlatih berusaha.**