Musniar, Perwaris Sulam Tertua di Pariaman

SISIBAIK.ID – Menelusuri pinggiran kawasan Naras, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Media Center (MC) Kota Pariaman menemui seorang lansia tengah bersimpuh di teras rumah. Matanya tajam menilik ujung benang sementara di sela bibirnya terselip satu jarum peniti. Perempuan lansia itu bernama Musniar, sudah 76 tahun usianya.

Dia dikenal warga setempat sebagai Penyulam atau pengrajin sulaman. Lebih setengah abad dia melakoni pekerjaan yang membutuhkan teknik tinggi itu, menyulam.

Menyoal aktivitas di usia senjanya, lansia itu menjawab, telah 70 tahun ia mengenal sulaman . “Semenjak umur 6 tahun saya telah mengenal sulam. Orang tua yang mengajarkan,” ungkap Musniar sembari mempersilakan duduk, Selasa (11/8/20).

Bertutur Musniar, bahwa semenjak usianya 6 tahun, hampir setiap hari orang tuannya (ibu) mengajak Musniar pergi menyulam. Tak luput sehari pun, ajakan itu selalu dituruti, bahkan Musniar Kecil kegirangan bisa ikut menyulam.

“Ibu saya juga menyulam kerjanya, setiap hari dia menyulam berbagai jenis sulaman. Darinya saya banyak belajar menyulam. Bangga rasanya mengenang waktu kecil itu saat belajar dengan ibu,” jelas Musniar yang dikaruniai 5 orang anak itu.

Benih cinta pada sulaman nan ditancapkan oleh ibunda, bersemi dan tumbuh menjadi teman setia Musniar hingga di usia senjanya. Alamat pening ia jika sehari saja tak menyulam. Bukan berlebihan, namun begitulah pengakuan teman Musniar yang satu profesi, namun jauh lebih muda daripada Musniar.

Musniar tidak menyangka, kesetiaannya pada sulaman akan mendatangkan nilai ekonomis di samping nilai estetika semata. Saat ini harga sulaman milik Musniar ada yang dibanderol seharga 900 ribu rupiah.

“Satu bulan saya bisa selesaikan dua sulaman . Itu harganya beragam, mulai dari empat ratus ribu hingga sembilan ratus ribu rupiah,” ungkap Musniar.

Perihal nilai ekonomis itu tak menjadi alasan utama baginya, kendatipun 5 orang anaknya mampu memenuhi kehidupan sehari-hari Musniar.

Baginya menyulam adalah obat sehingga pada usia setua itu alat inderanya masih berfungsi dengan lihai.

“Masih kuat jalan kaki, masak, dan aktivitas lainnya. Telinga masih kuat mendengar, apalagi mata masih jelas melihat. Bahkan untuk memasukkan ujung benang ke lubang peniti bisa saya lakukan,” ulas Musniar.

Hal itu dilakukannya, diambilnya peniti dengan tangan kiri, pada kanan, ujung benang warna merah muda telah membidik, siap menancap di lubang sekecil itu.

Tanpa gemetar, ujung benang merah muda menembus peniti, lalu Musniar menatap kami (MC) sembari tersenyum. Tatapan dan senyuman itu seolah ingin mengucapkan, “lihat, lihaikan saya,”.

Semakin lama obrolan dengan Musniar semakin menarik saja. Tampak jiwa dan semangat mudanya bersarang pada tubuhnya yang telah tua.

Kendatipun demikian, ada beberapa hal yang sedikit membuat Musniar terenyuh. Warisan keterampilan menyulam miliknya tak mengalir pada anak dan cucu.

“Tak seperti saya, mereka tak suka menyulam meskipun telah diajarkan. Mereka candu main HP,” sebut Musniar.

Bahkan kata Musniar lagi, anak cucunya takut mata mereka rusak akibat menyulam. “Mereka tak tau, tak belajar dari penglihatan saya. Barangkali lubang jarum peniti yang membuat mata saya masih tetap tajam,” sebut Musniar

Musniar mengaku, sedih hatinya jika keterampilan menyulam miliknya tak mengalir pada generasi selanjutnya. Namun ia tetap percaya bahwa selalu ada generasi yang akan meneruskan hal itu, meskipun bukan dari pihak keluarganya.

“Sama seperti benang jahitan, saat benang habis tetap akan ada benang pengganti hingga sulaman itu selesai. Nah itu ibarat kami-kami ini,” katanya.

Kiasan benang pengganti yang dikatakan Musniar membuat pembicaraan terhenti. Tampak raut Musniar seolah membeku di tepi teras rumah itu. Mata tajam Musniar mulai tampak berbinar, wajahnya tampak sedikit cengeng daripada semula.

Begitulah kehidupan Musniar, hampir seumur hidupnya dihabiskan untuk menyulam. Dia menjadi ‘Pewaris sulam tertua’ di kawasan itu. Dianya juga sabar sebab telah terlatih dengan menyulam.

“Menyulam berarti menggurui jiwa untuk bersabar. Benang dan peniti tak bersatu tanpa kesabaran,” ungkap sang Penyulam itu.(Angga)