Siapa Bilang Wisma Atlet Penuh?

Berdasarkan data sampai 11/9/2020 pukul 08.00 WIB, jumlah pasien yang dirawat mencapai 1.660 orang dan kapasitas tempat tidur di Wisma Atlet mencapai 3.518 unit.

SISIBAIK.ID – Lonjakan jumlah kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta membuat banyak orang mencari tahu kapasitas tempat tidur yang tersedia untuk merawat pasien. Salah satunya di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Kemayoran.

Sayangnya, informasi yang beredar di masyarakat simpang siur–terutama dari media sosial–, bahkan cenderung hiperbolis, seperti Wisma Atlet telah dipenuhi pasien Covid-19. Informasi itu seolah mendapat pembenaran setelah foto lampu yang menyala di semua tower beredar di ruang publik.

Berdasarkan data sampai Jumat (11/9/2020) pukul 08.00 WIB, jumlah pasien yang dirawat mencapai 1.660 orang. Dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 3.518 unit, berarti tingkat keterisiannya mencapai 47,2% atau masih ada 1.858 tempat tidur yang belum terisi.

Menurut Komandan Lapangan RSD Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Letkol Laut M Arifin, Jumat (11/9/2020), dari tujuh tower yang ada, hanya dua tower yang memiliki 24 lantai, yakni di Tower 3 dan Tower 6, sedangkan lima tower lainnya 32 lantai. Tower dengan 24 lantai memiliki 650 kamar dan jumlah tempat tidur (bed) yang tersedia untuk merawat pasien Covid-19 sebanyak 1.746, sedangkan tower dengan 32 lantai memiliki 886 kamar dengan total 1.772 bed untuk merawat pasien.

Dari tujuh tower tersebut, empat tower disiapkan untuk merawat pasien yang positif Covid-19. Tower 6 dan 7 untuk pasien dengan gejala ringan dan sedang, kemudian Tower 4 dan 5 buat pasien tanpa gejala. Khusus di Tower 6 terdapat instalasi gawat darurat (IGD). Untuk membedakannya, Tower 4 dicat warna biru, Tower 5 merah, Tower 6 oranye, dan Tower 7 berwarna kuning.

Tower 1 digunakan untuk ruang rapat, pusat distribusi makanan, minuman, dan kebutuhan operasional rumah sakit darurat. Di sini juga terdapat media center dan menjadi tempat tinggal personel TNI serta aparat lainnya yang bertugas di Wisma Atlet. Tower 2 diisi oleh tenaga kesehatan perempuan, sedangjan Tower 3 diisi tenaga kesehatan laki-laki.

Mengenai lampu di seluruh tower yang menyala, M Arifin menjelaskan,”Lampu di Tower 1-7 memang sengaja dinyalakan supaya suasananya tidak horor dan seperti apartemen. Meski lampu menyala semua, tetapi yang terisi cukup banyak hanya di Tower 6 dan 7. Itu pun belum penuh.”

Lebih jauh dia menyatakan Tower 4 dan 5 tidak hanya menerima pasien rujukan puskesmas dari wilayah DKI Jakarta, juga untuk kota penyangga Bodetabek, bahkan dari luar daerah.

“Kita melakukan screening awal, mana yang bisa diterima, mana yang tidak. Gejala berat belum bisa kita terima di sini, karena harus dirujuk ke RS rujukan Covid-19 yang memiliki ICU dan peralatan medis memadai,” jelas Arifin.

Khusus Tower 5, prosedur rujukannya sama dengan Tower 6 dan Tower 7. Di setiap tower, untuk satu lantai terdapat tiga perawat/tenaga medis.

“Pada prinsipnya, di Tower 5-7 itu pasien. Yang non-gejala di Tower 5. Terapinya yang suportif, ada tim psikologi, konseling, games,dan ada kalimat afirmasi melalui speaker. Hampir sama dengan Tower 6 dan 7, pasien di Tower 5 diberi vitamin dan makanan yang cukup. Fasilitas jogging track di lantai 12 dan pasien bisa berjemur di roof top,” ungkap Arifin.

Untuk pasien positif Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri, lanjutnya, hanya dirawat selama 10 hari sesuai peraturan menteri kesehatan (permenkes).

“Durasi tinggalnya 10 hari, tetapi kita juga melihat dinamika di lapangan. Pasien di Tower 5 juga bisa memesan makanan lewat aplikasi daring. Hal ini bisa membuat mereka senang dan meningkatkan imunitas tubuh. Tower 4 rencananya akan disiapkan, tetapi butuh proses. Kita harapkan Tower 4 tidak digunakan, tetapi tetap kita siapkan,” tegasnya.

Sumber:BeritaSatu.com