Menanam Padi di Atas Pipa Paralon Ala Petani Magelang

Selain hemat pupuk, pertanian ini organik sistem hidroganik ini hemat tempat, hemat waktu, dan masa panen bisa sampai lima kali dalma setahun.

SISIBAIK.ID – Menanam padi kini tak harus di sawah dengan menggunakan lahan luas. Lahan kosong di sekitar rumah pun dapat digunakan untuk menanam tanaman pangan ini. Ada teknik hidroganik, yakni campuran antara hidroponik dan organik yang bisa digunakan untuk menanam padi di paralon. Menarik bukan?

Caranya, tanaman padi ditanam di dalam cup plastik kompos dan sekam bakar, diletakkan di pipa-pipa paralon yang teraliri air dan nutrisi dari sumber air kolam ikan.

Teknik ini sudah dilakukan oleh Muh. Khoirul Soleh, warga di Dusun Kebonkliwon RT 09/RW 06, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Ttengah. Pria 46 tahun ini berhasil menerapkan model pertanian urban tersebut.

Dilansir dari tribunjogja.com, Khoirul menempatkan padi-padi dalam paralaon itu di atas kolam ikan di samping rumahnya. Ia menanam padi berjajar di atas peralon dengan air yang terus mengalir dari kolam ikan dan nutrisi untuk padi yang terpasok dari kotoran ikan.

Tak luas, kolam ikan nila miliknya hanya berukuran 19 x 5 meter. Sedangkan pada bagian atas, tanaman padi dengan sistem hidroganik berukuran 6 x 12 meter.

Peralon dirancang sedemikian rupa untuk mengalirkan air sekaligus media untuk tanaman padi sebanyak 24 buah. Tanaman padi sendiri ditanam dengan media tanam kompos dan sekam bakar perbandingan 3:1 di dalam cup plastik.

Tanaman dan medianya diletakkan di lubang yang sudah dibuat di sepanjang paralon. Sirkulasi air terus berjalan dibantu dengan alat pompa air dengan daya watt listrik kecil yang biasa untuk akuarium.

Pompa akan mengalirkan air secara terus menerus. Air yang masuk semula kotor, akan tersaring oleh akar tanaman padi, dan keluar menjadi air bersih.

“Menanam padi hidroganik karena masih menggunakan media kompos dan sekam bakar, tidak seperti hidpronik. Kalau hidroponik murni air, ibaratnya di situ ada media semai,” kata Irul, demikian Khoirul karib disapa.

Melalui model pertanian padi semacam ini, akan banyak keuntungan yang didapatkan. Diantaranya, tidak perlu usaha yang keras untuk mencangkul maupun menyiapkan lahan. Lahan yang dipakai menanam yakni menggunakan tempat yang telah dibuat tersebut.

Keuntungan lain yakni waktu yang terbuang untuk penyiapan lahan dapat dihemat dan dialokasikan untuk masa panen yang lebih cepat, karena tempat untuk menanam sudah tersedia. Petani hanya tinggal menyemai bibit padi pada media tanam yang sudah ada.

Model seperti ini juga diklaim hemat pupuk, karena kotoran ikan dapat menyuplai nutrisi tanaman, selain adanya kompos dan sekam bakar yang sudah digunakan. Lebih dari itu, pertanian ini organik tanpa bahan kimia. Masa panen bahkan diklaim bisa sampai lima kali.

Kemudian, gulma juga jarang tumbuh. Penyakit tanaman relatif sedikit. Jika pun ada, petani dapat melakukan penyemprotan dengan pestisida organik dengan bahan empon-empon dan bahan alami lainnya. Pertanian model ini dinilai sebagai pertanian berkelanjutan.

“Kontinuitasnya lebih banyak, kalau konvensional panen paling dua sampai tiga kali maksimal satu tahun. Di situ, saya maksimalkan bisa lima kali. Kenapa bisa lima kali, karena seketika umur sudah 70 hari, saya sudah bikin semai. Begitu panen langsung dimasukan lagi nggak usah ngluku (membajak), nggak usah macul (mencangkul). Jadi ada hemat 20 hari, terpangkas 20 hari, saya punya bibit lagi,” ujar Irul.

Irul mengaku baru pertama mencoba menerapkan pertanian padi hidroganik ini. Ia awalnya hanya melihat dari media sosial soal sistem itu dan tertarik melakukannya juga. Padi yang ditanam jenisnya IR64 dan merah putih. Usianya sudah sebulan lebih dan tinggal menunggu satu setengah bulan lagi untuk panen.

“Kolam ikan itu biasanya saya gunakan untuk menyiram bibit dan diatasnya itu tidak ada apa-apa. Saya pun mencoba alternatif menanam padi hidroganik ini siapa tahu bisa menopang ketahanan pangan minimal keluarga,” ujarnya.

Biaya yang dikeluarkan untuk membuat keseluruhan sistem hidorganik ini sekitar Rp 7 juta. Biaya yang paling banyak dikeluarkan untuk membeli peralon ukuran 4 inchi dan baja ringan untuk penopang saja. Setelah alat dan medianya terpasang, dapat digunakan terus menerus.

Model hidroganik ini dinilai cocok bagi mereka yang tidak memiliki lahan dan lokasi yang susah air. Sistem pertanian ini berkelanjutan, dimana antara tanaman dan ikan semua saling menyokong satu sama lain.

“Semua saling menyokong dan semua bisa dipetik hasilnya. Ini sudah beras atau nasinya dari padi, ikan itu jadi lauknya, sayur juga sudah ada yang ditanam di sekitar kolam ikan. Sudah bisa untuk makan sehari-hari,” ujar Irul.

Sumber: tribunjogja.com