Nofri Deswita, Putri Buruh Tani Jadi Khatthathah Terbaik MTQ Nasional 2020

Himpitan ekonomi tak menghalanginya untuk menorehkan prestasi. Nofri Deswita, anak buruh tani ini meraih juara terbaik 1 sebagai khattathah dalam ajang MTQ Nasional XXVIII 2020.

SISIBAIK.ID – Perhelatan MTQ Nasional ke-28 tahun 2020 telah ditutup pada Jumat (20/11) malam. Dari 125 orang kafilah yang diutus Sumatera Barat (Sumbar), 14 orang di antaranya berhasil meraih juara 1 untuk 10 cabang lomba.

Adapun qori dan qoriah Sumbar terbaik pada MTQ Nasional itu, yakni Yazid Hamdi (Tilawah Tingkat Anak), Abdullah Fikri (Qiraat Mujawwad Dewasa), Annisaul Malikhah (Qiraat Mujawwad Dewasa), Aqsal Z Rafsanjani Hasibuan (Hafizh 1 Juz dan Tilawah), Asraldi (Hafizh 5 Juz dan Tilawah).

Kemudian Muhammad Mufid Al Izza (Hafizh 20 Juz), Muhammad Sulthon Annasiro Bahrun (Tafsir Al Quran Bahasa Arab), Nila Hidayati (Tafsir Al Quran Bahasa Inggris), Rivi Pratama Putra (Khath Al Quran), Nofri Deswita (Khath Al Quran), serta Rayhan Fafizul Fikri, M.Harun Ar Rasyid, dan M.Dhonan Latif (Fahmil Quran).

“Keputusan ditetapkan di Kota Padang, 20 November 2020. Keputusan Dewan Hakim tidak dapat diganggu dugat,” kata Ketua Dewan Hakim, M. Roem Rawi membacakan Surat Keputusan Dewan Hakim Nomor: 02/Kep.DH/MTQN/-XXVIII/2020.

Nama Nofri Deswita sudah tidak asing lagi dalam ajang perlombaan Kaligrafi golongan dekorasi. Kesuksesannya meraih juara  terbaik 1 sebagai Khatthathah sudah diprediksi sejumlah pihak sebelumnya.

Sarjana Akuntansi Syari’ah ini sudah menyukai seni melukis sejak di TPA, melalui ustadz yang membimbingnya. Sejak usia belia Nofri Deswita suka melukis pemandangan alam. Sejak itu bakatnya mulai terlihat dan mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya.

Kemudian saat masuk TK Iqra Abadi, ia pernah menjuarai lomba dan mendapat nilai terbaik. Selepas itu, saat menduduki bangku sekolah dasar di  SD 06 Pandam di Sungayang, Ides begitu sapaan akrabnya, termasuk anak yang berprestasi. Ia  pernah mengikuti lomba melukis tingkat kecamatan dan keluar sebagai juara I. Namun sayangnya belum beruntung mendapatkan predikat juara di tingkat kabupaten.

Di sisi lain, menjalani hari demi hari dalam himpitan ekonomi, memang tidak mudah bagi Ides. Namun putri buruh tani ini tak lantas menyurutkan hasrat untuk berprestasi. Ia mengaku dengan penghasilan orang tua 300-500 per minggu, hasil bekerja di sawah orang tak membuatnya kecil hati.

“Alhamdulillah cukup cukup saja untuk kebutuhan kami saat itu dan saya bertekad ingin merubah keadaan orangtua dengan kemampuan yang saya miliki,” ungkapnya.

Berkat guru-gurunya yang selalu memberi motivasi, maka kepercayaan diri Ides semakin terbangun. Pak Raymond, adalah seorang guru yang selalu berpesan padanya supaya ia tidak berhenti berjuang. Ia selalu menyemangati Ides untuk terus  mengembangkan bakatnya dan ikut terus perlombaan melukis.

Tidak sia-sia, saat ia melanjutkan ke jenjang SMP, ia sering meraih juara 1, 2 dan 3. Ides pun mengikuti berbagai jenis lomba dan juara melukis di berbagai ajang perlombaan.

Duduk di bangku SMA, selain aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, seperti melukis, mading dan lain lain, kemampuan akademisnya juga patut diacungi jempol. Ides selalu menjadi langganan juara kelas, bahkan sejak sekolah dasar.

Prestasi ini ia teruskan hingga memasuki dunia kampus. Putri dari pasangan Hilal dan Suhelmailis ini mengambil jurusan Akuntansi Syariah S1. Ia masuk pada tahun 2011 dan berhasil diwisuda Tahun 2015. Mengagumkan, ia berhasil mengantongi predikat cum laude dengan nilai IPK 3.74.

“Beruntung sejak SMP sampai kuliah selalu dapat beasiswa, sehingga dapat meringankan beban orang tua yang hidupnya pas-pasan” kenangnya.

Tentang perlombaan melukis kaligrafi yang kini ditekuni, ada satu hal yang tak terlupakan bagi Ines saat bergabung dengan sanggar kaligrafi di Batu Sangkar 2012. Di situlah ia mulai belajar dari nol dan dilatih 3 kali dalam seminggu untuk melukis kaligrafi dekorasi.

Tak ingin melewatkan kesempatan, gadis kalem ini pun memberanikan diri dan sering diikutkan lomba tingkat kabupaten, cabang dekorasi, mushaf dan naskah. Padahal ia baru belajar dua jenis khat. Sementara sebenarnya ada 7 jenis.

“Awalnya Ides nggak mau karena nggak yakin, tapi selalu didorong dengan motivasi oleh guru, benar-benar nggak nyangka saat itu Ides bisa dapat juara 2,” ungkapnya.

Gadis berjilbab ini menyebut, untuk tingkat Kabupaten/kota ia mengaku sudah 3 kali menjuarai lomba. Saat MTQ di Pariaman, Sawah Lunto, dan Solok. Sedangkan untuk ajang perlombaan tingkat nasional baru dua kali, yakni di Medan dan Padang.

“Di kampus juga sering ada lomba. Di Banten waktu itu Ides mendapat harapan 1, hanya waktu lomba di Palu gak dapat juara,” imbuhnya.

“Motivasi saya ingin membahagiakan orang tua. ingin membalas jasanya, yang susah payah memperjuangkan kami anak- anaknya dengan bertani. Saya ingin mengubah kehidupan yang sederhana selama ini menjadi lebih baik dan sukses,” harapnya.

Ia bersyukur saat dulu menang lomba ia diberi hadiah senilai 12 juta. Uang itu dimanfaatkannya dengan baik.  Setengahnya digunakan untuk menekuni kursus di lembaga Kaligrafi  di Sukabumi.

Hasil memang tak pernah mengkhianati usaha, begitu prinsip yang dipegangnya. Karena kegigihannya ia pun nekat pergi sendiri, padahal saat itu ekonomi orangtua lagi terpuruk.

Ia mengaku, awalnya sempat merasa kecil hati karena peserta lain dibiayai oleh Pemda. Meskipun demikian, ia tetap mampu menyandang  juara 2 di Tangerang, bahkan di Bogor menyabet juara I.

Ides yang bercita cita ingin menjadi Akuntan Syariah ini mengaku mengikuti even MTQ niat awalnya hanya untuk ibadah. Ikut MTQ baginya sebuah dedikasi, tak pernah terpikir untuk terkenal, apalagi hanya sekadar mendapat hadiah.

Doa Orangtua

Ia tak surut melangkah sekalipun orang tuanya  tak pernah bisa mengantarnya kemana-mana karena harus bekerja banting tulang mencukupi kebutuhannya dia dan adiknya. Baginya yang utama  adalah doa orang tua yang selalu menyertainya.

“Doa mereka sudah lebih dari segalanya,” aku perempuan dua beradik ini.

Berbekal pengalamannya, Ides tak pelit berbagi ilmu adik-adik kelasnya.  Ia mengajar mengajar melukis maupun kaligrafi dari SD, SMP, SMA, bahkan sampai kuliah. Caranya ada yang privat dan ada juga dipanggil ke  pondok pesantren untuk persiapan lomba

“Ides pernah bekerja sebagai guru honorer. Tapi karena sibuk MTQ jadi ia memilih berhenti” jawabnya meyakinkan.

Akhirnya pada malam penutupan MTQ  20 November 2020, nama Nofri Deswita keluar sebagai juara terbaik 1 Khatthathah golongan dekorasi. Tampak sekali ia bersyukur dan ingin memberi kejutan pada orang tuanya. Bonus 250 juta dari Gubernur pun terbayang bakal disabetnya dan sudah di pelupuk mata.

“Ucapan terimakasih kepada para semua guru Khatthathah baik yang di Sumbar maupun yang diluar Sumbar di Indonesia yang tak bisa disebutkan satu persatu, khususnya kepada guru pembimbingnya Ustadz Yul Al Fath yang telah membimbingnya dari nol hingga sekarang,” katanya.

Berlimpah bonus dan hadiah, hanya satu keinginan Ides: membahagiakan kedua orangtuanya. “Ides ingin bangun rumah, karena rumah adat orang tua sudah nggak layak pakai,  selain itu ingin umrah juga,” pungkasnya.

Sumber: kemenag.go.id