Menteri Agama, Santri dari Rembang Penyeru Inspirasi Islam

SISIBAIK.ID – Bertubuh besar dan bernyali tebal. Begitulah sosok Gus Yaqut, sebutan sehari-hari H Yagut Cholil Qoumas, anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang lebih dikenal sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Anshor itu. Kini dia didapuk jadi Menteri Agama.

Tanpa didahului  banyak dukungan-dukungan di media sosial maupun media mainstream, tiba-tiba saja Presiden Jokowi menunjuknya sebagai Menteri Agama dan melantiknya di Istana Negara, Rabu (23/12/2020) pagi.

Gus Yaqut pun resmi masuk dalam Kabinet Indonesia Maju di bawah Presiden Joko Widodo dan  Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin. Ia dilantik bersama lima menteri baru yang lainnya. Yaqut ditugasi untuk  memimpin Kementerian Agama, menggantikan Letjen (Purn) Fachrul Rozi yang masa baktinya berakhir lebih cepat. Tentu, situasi  ini mengundang pertanyaan, mampukah pria berusia 45 tahun itu mengemban tugas?

Urusan Kementerian Agama tentu bukan sekadar urusan haji, umrah, jaminan produk halal, serta bimbingan masyarakat tentang agama-agama. Di dalam kewenangan Kemenag itu ada pula soal pendidikan agama, hal selalu mengundang sorotan masyarakat dari waktu ke waktu. Tak bisa lagi dipungkiri, di situlah  ada titik persinggungan yang kritis, antara kebebasan menyampaikan pandangan keagamaan dan kebutuhan akan tata nilai yang bisa dianut bersama dalam masyarakat multikultur yang membutuhkan kesetaraan.

Gus Yaqut tampaknya sadar bahwa ia menghadapi situasi yang tidak mudah, terkait tata nilai bagi masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Apalagi, isu ini secara langsung sering terkait dengan soal politik. Maka, dia pun sudah menetapkan prioritas program kerjanya, “Agama itu inspirasi bukan aspirasi,” kata santri yang menyelesaikan studinya bidang sosiologi di FISIP Universitas Indonesia itu.

Dalam konferensi pers virtual, seusai ia diperkenalkan sebagai menteri baru di Istana Negara, Selasa (22/12/2020) sore, ia pun merilis keterangan pers melalui video yang disiarkan lewat kanal sekretariat kabinet.

“Agama sebisa mungkin tidak lagi digunakan sebagai alat politik, baik untuk menentang pemerintahan, merebut kekuasaan, atau mungkin untuk tujuan lainnya,” ujarnya.

Sebagai Menteri Agama, Gus Yaqut akan mengajak semua elemen muslim membangun ukhuwah, persaudaraan Islam, yang pada gilirannya akan menjadi bekal untuk membangun persatuan nasional.

Cendekekiawan muslim Ahmad Sahal mengaku gembira, sosok kader NU, Yaqut Cholil, terpilih sebagai Menteri Agama. Di mata Sahal, Gus Yaqut memiliki pandangan yang jelas dan tegas atas situasi politik keagamaan yang berkembang dewasa ini.

Menurut Sahal pula, pandangan politik keagamaan yang berbahaya itu berkembang dalam tiga strata: intoleransi, radikalisme, lantas tahap terberatnya ialah teroris. Menurut Sahal, ketiganya berada dalam platform yang sama.

Sebagian umat Islam, Sahal menyebut, pandangan ekstrem itu berada di luar ajaran Islam. Sebagai kader NU, menurut Sahal pula, Yaqut Cholil Qoumas paham betul bahwa ketiganya tidak terpisah dari cara pemahaman orang atas Islam.

“Yang diperlukan adalah kontranarasi, dan yang paling kuat dilakukan melalui jalur pendidikan agama,” kata Sahal, intelektual yang mempelajari masalah isu-isu keislaman di Pennsylvania State University, AS, itu.

Melalui narasi yang dikemas dalam video dan diunggah di YouTube Selasa (22/12/2020) malam, Sahal berharap, Gus Yaqut dengan otoritasnya sebagai Menteri Agama bakal membawa dunia  pendidikan Indonesia bisa menyelenggarakan pendidikan Islam yang kritis, terbuka, sehingga tidak ikut terseret ke dalam gelombang intoleransi.

Harapan itu tampaknya tidak berlebihan. Yaqut dibesarkan dalam pandangan Islam yang toleran dari lingkungan keluarganya di Rembang, Jawa Tengah. Ia adalah putra KH Cholil Bisri, tokoh NU yang juga politikus, dari Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin di Rembang. Semasa hidupnya, Kiai Cholil Bisri (1942-2004) pernah aktif sebagai anggota DPRD II di Rembang dari PPP, dan ia pun ikut mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di era reformasi.

KH Cholil Bisri adalah kakak kandung KH Ahmad Mustofa Bisri, yang dikenal sebagai kiai seniman dari Rembang. Keduanya merupakan putra dari KH Bisri Mustofa, ulama yang juga seorang pejuang perang kemerdekaan lewat organisasi paramiliter Hisbullah di Rembang. Sebagai ulama, keluarga Bisri ini dikenal punya tradisi pendalaman nahwu (tata bahasa) dan manthiq (logika semantik), dua hal yang diperlukan untuk memahami teks-teks ajaran Islam.

Meski lahir di tengah keluarga pesantren, Gus Yaqut menamatkan pendidikan SD, SMP, hingga SMA dari sekolah negeri. Ia belajar agama seusai jam sekolahnya. Tamat SMA ia melanjutkan pendidikan di Kampus UI Depok.

Di situ ia ikut mengembangkan organ mahasiswa NU, yakni PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Bukan hanya di UI, melainkan juga ke kampus lainnya, hingga PMII pun bisa mendeklarasikan PMII Cabang Depok. Ia menjadi ketuanya pada periode 1996–1999.

Setamat kuliah ia menjadi aktivis di Jakarta. Ia tertarik dengan bidang politik dan mengawalinya dari Rembang, dengan menjadi Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB setempat pada 2001. Berikutnya, ia terpilih menjadi anggota DPRD Rembang pada 2004. Bahkan tahun berikutnya, Gus Yaqut terpilih sebagai Wakil Bupati Rembang 2005–2010.

Namun, karirnya di pemerintahan daerah tak berlanjut. Ia terjun ke NU melalui GP Anshor. Ia juga dipercaya menjabat Wakil Ketua PKB Jawa Tengah 2012–2017. Pada 2014, ia mencalonkan diri dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 untuk DPR RI. Ia hanya meraih suara terbesar kedua di daerah pemilihan itu. Yang terpilih ke Senayan adalah Hanif  Dhakiri.

Namun, Hanif kemudian ditunjuk sebagai Menteri Ketenagakerjaan di Kabinet Kerja oleh Presiden Jokowi. Melalui mekanisme PAW (pergantian  antarwaktu) Gus Yaqut mengisi posisi Hanif di DPR RI. Ia masuk Komisi III. Di  tahun berikutnya, dalam Kongres GP Anshor ke-15 di Pondok Pesantren Pandanaran, Yogyakarta, dia terpilih secara aklamasi sebagai ketua Umum GP Anshor. Pada Pileg 2019, Gus Yaqut pun mulus melaju ke Senayan. Ia ditempatkan di Komisi II DPR.

Dalam usianya yang relatif muda, Gus Yaqut sudah cukup banyak menangguk pengalaman dalam tugas, yang menuntut kematangan kepemimpinan. Maka, memasuki jenjang jabatan menteri pun dia tak tampak gamang. Ia pun mengisyaratkan, sebagai Menteri Agama, dia akan terus mengawal Republik Indonesia yang bersifat kebangsaaan.

Gus Yaqut menyatakan, tidak satu kelompok pun yang bisa mengklaim bahwa Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan kelompok agamanya. Maka, katanya, tak satu kelompok pun atau satu agama pun yang bisa mengklaim kepemilikan tunggal atas negara ini. [indonesia.go.id]