Peternak Perkutut Berkibar Saat Pandemi

Di masa pandemi, berternak burung perkutut menjadi alternatif usaha, sekaligus hobi yang mendatangkan keuntungan besar.

SISIBAIK.ID – Di masa pandemi Covid-19 yang belum kunjung reda, banyak usaha yang gulung tikar karena tak mampu bertahan. Namun tidak dengan peternak burung perkutut. Permintaan pasar terhadap jenis burung anggungan ini malah meningkat.

Seperti dirasakan Tonny Hartono, peternak burung perkutut di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Penjualan burung perkutut milik lelaki 57 tahun ini naik hampir dua kali lipat selama masa pandemi Covid-19.

“Biasanya, saya menjual 300 ekor perkutut tiap bulan. Tapi, selama pandemi ini permintaan justru meningkat. Saya bisa menjual sekitar 450-500 ekor per bulan. Saya harus mengambil perkutut dari peternak lain untuk memenuhi permintaan pasar,” kata Tonny, dilansir dari koran Surya.

Peternakan perkutut milik Tonny bisa dibilang paling besar di Kota Blitar. Dia berternak burung perkutut jenis bangkok. Sekarang, dia memiliki sekitar 700 pasang indukan perkutut dan 800 petak kandang di lahan seluas sekitar 2.350 meter persegi.

Tonny menekuni peternakan perkutut sejak 20 tahun silam. Dia berternak perkutut berawal dari hobi. Dia memang penggemar jenis burung anggungan. Ketika memulai berternak, Tonny hanya memiliki 12 pasang indukan perkutut. Sekarang, dia sudah memiliki ribuan ekor burung perkutut.

“Awalnya dari hobi akhirnya jadi bisnis. Ketika memulai ternak saya hanya punya 12 pasang indukan. Saya membuat kandang di sisa lahan samping rumah kontrakan,” katanya.

Lambat laun, peternakan perkutut milik Tonny terus berkembang. Dia membeli lahan untuk mengembangkan penangkaran burung perkutut di Kelurahan Gedog.

Menurut Tonny, berternak burung perkutut lebih gampang dibandingkan jenis burung kicauan lain. Selama makan dan minum tersedia, burung perkutut akan berkembang biak.

“Untuk pembersihan kandang seminggu dua kali,” ujarnya.

Untuk ukuran kandang, kata Tonny, standarnya memiliki tinggi 190 cm dan lebar 60 cm. Dia menggunakan bahan kawat besi untuk kandang perkutut.

“Model kandang apapun bisa asalkan tetap dapat sinar matahari,” katanya.

Tonny juga menjodohkan burung perkutut sendiri. Untuk penjodohan, dia melihat kualitas suara pada indukan burung perkutut.

“Saya coba dulu, kalau hasil suaranya bagus, saya teruskan penjodohan-nya. Tapi, kalau hasilnya kurang bagus, saya pisah diganti dengan indukan lain,” katanya.

Tonny merawat sendiri peternakan burung perkututnya. Untuk pemasaran, dia dibantu anaknya, Benny. Anaknya memasarkan hasil peternakan perkutut melalui media sosial.

“Selain melayani pasar lokal, penjualannya juga ke luar kota sampai Bali,” ujarnya.

Tak hanya Tony, seorang warga di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, juga meraup untung karena burung perkutut dari peternakannya makin banyak peminat. Berkat ketekunannya, Suwarto, warga Kelurahan Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, ini menjadikan ratusan perkutut miliknya menjadi perkutut berkelas. Bahkan kerap menjadi pemenang di beberapa kontes perkutut baik skala provinsi Jawa Tengah maupun nasional. 

Dengan segudang prestasi inilah, anakan indukan perkutut milik Suwarno banyak dicari para konsumen mulai dari Kota Semarang, Madura, Kalimantan, hingga Sulawesi. Para konsumen percaya, jika indukan bagus atau indukan yang telah menjuarai sebuah kontes akan menghasilkan anakan yang bagus pula.

Suwarto yang menekuni budidaya perkutut sejak 2014 ini mengaku, di masa pandemi covid 19 penjualan burung perkutut justru meningkat.  Dalam sebulan, Suwarto mampu menjual setidaknya 30 ekor perkutut. Harga satu ekor burung perkutut pun bervariasi, mulaai jutaan hingga 200 juta rupiah.

Dari sisi teknis pengelolaan, bubidaya perkutut tidaklah rumit. Burung yang satu ini juga tidak gampang stres dan terkena penyakit. Yang perlu diperhatikan sehari harinya adalah membersihkan kandang, memberi pakan dan minuman.