Drama Elite Negeri Antah Berantah

“Barangkali saja orang akan mengingat tulisanku ini, akan ada permainan politik oleh orang-orang kriminal dan permainan kriminal oleh orang-orang politik.” (Pramoedya Ananta Toer)

Ini adalah sebuah kisah di negeri Antah Berantah. Sebuah negeri gemah ripah loh jinawi. Negeri yang dilimpahi kekayaan alam meruah dengan penduduk guyup rukun bersahaja. Negeri ini juga diberkahi dengan pemimpin yang jujur, tulus, sederhana, dan pekerja keras. Pemimpin yang dielu rakyatnya dapat mengantarkan nasib bangsa menuju kejayaan.

Adalah partai politik. Partai yang menjadi bagian tak terpisahkan di negeri ini karena sistem demokrasi yang dipilih mengharuskan keberadaan mereka sebagai representasi suara rakyat. Partai yang konon tumbuh dari jeritan suara akar rumput yang terhimpit dan tertindas. Partai yang mengusung jargon partai wong cilik, partai yang selalu menjunjung suara rakyat dan mengusung idealisme tingkat dewa untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan anak bangsa.  Sayang jika semua itu hanya barisan tulisan indah di atas kertas.

Dalam kenyataannya, ketika duduk di kursi kekuasaan, satu-persatu idealisme para elite partai politik mulai luntur. Mereka kini makin gemar bersolek, memuja harta dan kemewahan. Mereka lebih suka bergaul dengan pengusaha (hitam) ketimbang turun ke bawah, mendengarkan rakyat berkeluh kesah. Para elite menjadi lebih suka dilayani ketimbang melayani rakyat. Kepetingan rakyat makin tergerus karena kebutuhan kolega. Berbagai aturan yang harusnya mendudukkan pentingan negara dan kebutuhan rakyat di atas segalanya, menjadi terabaikan karena beleid pesanan. Wani piro?

Sampai titik ini, Presiden mencoba menutup mata dengan tetap fokus dengan agenda mengurus negara. Sementara partai-partai yang dulu mengusungnya, makin sibuk bermanuver dengan berbagai urusan kelompok dan periuk mereka. Adapun rakyat, yang dulu menyumbangkan suara, berharap wakilnya akan menjadi suluh harapan, hanya bisa mengelus dada. Satu yang mereka yakini, Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur). Dan benar saja, satu-persatu borok para elite politik itu terbuka. Lembaga antirasuah di negeri Antah Berantah  menjaring tak sedikit punggawa negara karena kasus korupsi.

Sudah sejak lama korupsi menjadi musuh besar negara Antah Berantah. Namun, akhir-akhir ini korupsi semakin menggila. Beraneka ragam upaya, pencegahan, hingga punishment terus diupayakan. Tapi nyatanya, pelaku korupsi masih tidak takut dengan segala regulasi atau aturan yang berlaku. Upaya mencari celah dari berbagai sudut terus dilakukan oleh mereka yang haus akan kekuasaan dan uang haram.

Ada yang bilang, nenek moyang korupsi adalah partai politik. Itu karena parpol memiliki dua kewenangan utama yang sangat mendasar. Pertama, membuat undang-undang dan kedua memiliki hak menentukan pejabat publik. Konsekuensinya, apabila legislator dari parpol ini bermental korupsi, maka proses legislasi yang dihasilkan pasti korup.

Apa yang ada di benak para elite dan apa yang salah dengan negeri Antah Berantah? Sumber daya alam banyak, kekayaan punya. Hanya ada dua kemungkinannya. Pertama, para elite tidak memiliki kompetensi untuk menciptakan sistem teknologi yang tepat untuk mengelolah dan meningkatkan kemampuan masyarakat. Kedua, elite hanya pandai saat berdialektika, tapi kosong dalam implementasi.

Sesungguhnya tak perlu banyak orang  untuk mengurusi urusan publik yang menduduki posisi penting di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif di tingkat pusat hingga daerah. Mereka harus direkrut. Siapa rekruternya? Sayangnya, mau tak mau, partai politik masih memegang peran besar dalam penentuan pejabat publik. Itulah yang kemudian menjadi lingkaran setan.

Di negeri Antah Berantah, partai politik terbukti telah gagal merekrut orang-orang baik. Partai-partai politik telah gagal merekrut kader yang berkualitas untuk duduk di lembaga wakil rakyat, alih-alih menyodorkannya untuk jabatan menteri. Upeti, uang mahar, pelicin , dan banyak istilah lain, yang pada intinya untuk memuluskan jalan menuju kekuasaan.  Orang-orang baik dijegal, dikucilkan, bahkan disingkirkan. Sementara mereka yang bisa memuaskan keinginan elite partai akan ditunjuk menduduki sebuah jabatan. Karena itu tak salah bila Will Rogers, seorang pelawak dan aktor kawakan di Amerika Serikat mengatakan, politik itu mahal, bahkan untuk kalah pun kita harus mengeluarkan banyak uang.

Di akhir cerita, kita semua berharap, kisah di negeri Antah Berantah tak pernah terjadi di Republik Indonesia tercinta. Kita berharap, elite politik di negeri ini selalu mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara di atas segalanya. Jangan peduli rakyat jelang musim pemilu saja.

Penulis: Dr Pieter C. Zulkifli, Pengamat Kebijakan Publik, tinggal di Kota Malang, Jawa Timur.

Sumber: pietercz.id