Menilik Arsitek Rumah Kuno Tahan Gempa di Bali Utara

SISIBAIK.ID – Pulau Dewata, Bali, pernah diguncang gempa bumi hebat pada dua abad silam, tepatnya tahun 1815. Lindu yang mengguncang wilayah Bali bagian utara itu dikenang masyarakat dengan peristiwa “Gejer Bali”.

Sejumlah ahli mencatat, guncangan gempa yang terjadi pada 22 November 1815 diperkiraan mencapai magnitudo (M) 7,5 pada pengukuran skala richter. Peristiwa ini berada di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara.

Adalah I Made Kris Adi Sastra memperlihatkan naskah yang disimpan oleh Anak Agung Ngurah Sentanu tentang gempa dahsyat itu.

Adalah tiga orang tokoh Bali yang mendokumentasikan peristiwa bersejah itu dalam sebuah dokumen. Mereka,  Anak Agung Ngurah Sentanu, Gde Krisna, dan I Made Kris Adi Sastra, bertemu di Puri Kanginan Singaraja pada Ahad 22 November 2015 untuk membahas pentingnya mengingat kembali peristiwa Gejer Bali. Mereka menganggap gempa dahsyat yang menghantam Pulau Dewata saat itu, bisa jadi peringatan bahwa kapan pun bencana gempa bisa terjadi kembali di Indonesia.

Kekinian,  Adi berusaha menceritakan ulang kisah lama itu dengan mengedepankan ilmu kebumian modern.

”Mimitan linoeh mageng goentoer, ketoeg, sebak kang goenoeng, raris ebah kapertiwi, rebah negara Boeleleng Singaradja…”.

Itulah kalimat pembuka halaman pada buku 200 Tahun Gejer Bali 22 November 1815-22 November 2015 yang disusun oleh I Made Kris Adi Astra. Ia menerjemahkannya sebagai getaran gempa bumi mengakibatkan pegunungan retak longsor dengan suara menggelegar seperti guntur. Longsoran pegunungan lantas menimpa ibu kota Kabupaten Buleleng, Singaraja.

”Kita berada diatas sumber patahan gempa bumi, patahan ini berpotensi menimbulkan tsunami. Tahun 1815 juga pernah mengalami tsunami, waktu itu masih terbilang tsunami kecil,” ungkapnya dilansir dari goodnewsfromindonesia.

Saat itu pusat gempa di Bali Utara ada disepanjang Laut Bali bagian utara yang memanjang ke timur melintasi Lombok, lalu ke Sumbawa, Flores, hingga ke Laut Banda. Namun Saat gempa terjadi, tak sedikit masyarakat yang berhasil menyelamatkan diri.

Bahkan, banyak bangunan yang tak hancur dan masih berdiri kokoh walau diguncang gempa. Padahal, Gempa bumi tahun 1815 ini masih tercatat menjadi yang terbesar dengan kerusakan serta korban jiwa terbanyak dibandingkan tiga gempa bumi berkekuatan besar lainnya pada 1917, 1976, dan 1979.

Mereka yang berkumpul untuk membahas “Gejer Bali” 1815 ini meyakni, desain rumah tua Bali Utara, menjadi jawaban yang paling relevan untuk mengantisipasi banyaknya korban saat terjadi gempa.

Konstruksi rumah tua tahan akan gempa, karena menggunakan kayu dengan adanya sambungan yang fleksibel bergerak saat gempa. Kontruksi yang memanfaatkan saka atau tiang, dan juga lambang serta sineb sebagai balok pada bangunan, melindungi penghuninya dari adanya reruntuhan bangunan akibat gempa.

Salah satu pengamat yang fokus pada arsitektur kuno Bali, Gde Krisna, mengungkap bahwa semua rumah-rumah tradisional di Bali Utara dinilai tahan akan guncangan gempa. Ini karena si pemilik rumah sudah mendesain sedemikian rupa dengan menggunakan bale-bale di dalam rumah tersebut.

“Bale ini strukturnya di atas tanah tidak masuk ke dalam tanah, dan kalau terjadi gempa dia hanya bergeser saja. Bagian yang runtuh biasanya adalah temboknya saja, sehingga di desa tua tidak pernah ada cerita masyarakat tewas akibat korban gempa,” ujar Krisna saat mempresentasikan temuannya di hadapan para undangan.

Mitigasi dan kesiapsiagaan sepatutnya terus digemakan secara masif demi meminimalkan korban ketika gempa tarjadi. Saat bencana tak terelakkan, kesiapsiagaan kunci untuk menyelamatkan.

Menilik kearifan lokal yang dimiliki oleh hampir semua wilayah di Indonesia, banyak hal-hal yang telah dilakukan nenek moyang untuk bersinergi dengan alam demi keberlangsungan kehidupan yang patut dilestarikan. Arsitektur lokal peradaban Bali kuno adalah salah satunya.

Arsitek rumah Bali kuno ini menjadi salah satu temuan penting dalam kesejarahan gempa di Indonesia. Diketahui peradaban Bali kuno telah melakukan proses ujicoba yang panjang, untuk membangun rumah tahan gempa dan diwariskan ke generasi setelahnya.