Masjid Tuha Indrapuri, Tonggak Peradaban Islam di Aceh

Masjid Tuha Indrapuri menjadi salah satu situs penting yang menandai perjalanan sejarah Aceh. Selain bersejarah, masjid kuno ini juga saksi bisu masuknya peradaban Islam di Aceh.

SISIBAIK.ID – Masjid Tuha Indrapuri didirikan pada tahun 1618 oleh Sultan Iskandar Muda yang merupakan Sultan Kerajaan Aceh pada masa itu. Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa Masjid Indrapuri dibangun pada 1607-1636 Masehi.

Masjid Tuha Indrapuri terletak di Desa Pasar Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Lokasi masjid tidak jauh dari jalan raya Banda Aceh-Medan, kurang lebih sekitar 150 meter memasuki persimpangan pasar Indrapuri.

Dahulunya bangunan masjid ini merupakan candi yang didirikan oleh kerajaan Hindu Aceh. Kemudian dihancurkan setelah masuk dan berkembangnya ajaran agama Islam di bumi Serambi Mekkah.

Seluruh bangunan berkontruksi kayu dengan beberapa ukiran tradisional bernuansa Arab. Masjid beratap tumpang ini dibangun di atas tembok undakan empat lapis yang terbuat dari batu kapur bercampur tanah liat.

Gaya Arsitektur

Rekontruksi bangunan masjid yang berada di areal seluas 33.875 meter persegi ini, memiliki empat tingkat. Empat tingkat atap ini melambangkan tingkatan ilmu Islam, mulai syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.

Saat pembangunan masjid, Sultan Iskandar Muda mamasang 36 tiang penyangga bersama penopang atap. Dari tiang tersebut masih terlihat beragam bentuk ukiran khas masa kerajaan kuno.

Disamping itu bentuk atap masjid ini menyerupai piramida dengan empat atap dari bawah hingga paling pucuk. Atap berbentuk piramida itu merupakan ciri khas masjid-masjid tradisional di Aceh.

Majid ini bergaya arsitektur tradisional. Sementara luas masjidnya 4.447 m2. Dikelilingi tembok yang menjadi benteng sekaligus pondasi masjid, bangunan kuno ini terlihat sangat kokoh.

Sebelum masuk ke bagian dalam masjid, Anda harus melewati pintu utama di sebelah timur dan menaiki 11 tangga. Tempat wudlu berbentuk kolam berada di depan masjid. Desain tempat wudlu semacam ini lumrah dipakai masjid-masjid Aceh di masa lalu.

Anda juga akan melihat keunikan konstruksi masjid. Bangunan ini didominasi kayu yang diukir unik. Masjid yang tingginya mencapai 11,65 m ini, memiliki 36 tiang penyangga berikut kuda-kuda penopang atap.

Selain itu, masjid ini dibangun tanpa menggunakan paku atau pun baut. Yang dipakai hanya pasak kayu. Lanjut ke bagian atap. Masjid Tuha Indrapuri memiliki atap bersusun tiga dengan ukuran makin mengecil ke atas menyerupai atap masjid Agung Demak.

Masih ada lagi keunikan di masjid ini. Anda tidak akan menemukan pintu atau jendela. Untuk melihat situasi di luar masjid sekaligus ventilasi udara, ada ruang terbuka sekitar 50 cm di antara atap dan dinding.

Saksi bisu sejarah di Aceh

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terkenal dengan julukannya sebagai Serambi Mekkah. Meskipun begitu, di Aceh pernah berdiri sebuah Kerajaan Hindu, bernama Lamuri.

Pada 10 Masehi, wilayah Indrapuri merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Hindu Indrapurwa. Literatur lain menyebutkan selain mendirikan kerajaan, orang-orang Hindu juga mendirikan candi yang diberi nama Indrapuri, yang artinya Kuta Ratu.

Lalu pada abab ke-12 Masehi, Kerajaan Hindu Lamuri perang dengan pasukan bajak laut dari Cina. Pada akhirnya perang dimenangkan oleh Kerajaan Lamuri atas bantuan Meurah Johan yaitu Pangeran dari Lingga (Gayo) yang kemudian menjadikan Kerajaan Lamuri sebagai penganut Islam.

Daerah ini pernah difungsikan sebagai benteng pertahanan pada saat pendudukan Portugis dan Belanda di Aceh. Hal ini terjadi saat Istana Dalam Kerajaan Aceh Darussalam di Banda Aceh berhasil dikuasai Belanda dalam agresi militer kedua tahun 1874.

Di sini, Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah (1884-1903) dinobatkan sebagai Raja Aceh. Ketika itu, masjid kuno ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Aceh sekaligus basis pertahanan pasukan.

Serdadu kolonial sempat menguasai masjid ini, namun pasukan Aceh berhasil merebutnya kembali lewat pertempuran sengit. Masjid Indrapuri kembali menjadi pusat ibadah sekaligus pengembangan ilmu keagamaan.

Masjid tertua di Asia Tenggara
Kolam Wudhu Masjid Tuha Indrapuri

Masjid Tuha Indrapuri selain tertua di Nusantara, juga disebut salah satu tertua di Asia Tenggara. Hal ini bedasarkan fakta Islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui Aceh yaitu melalui Kerajaan Perlak, lalu Kerajaan Samudera Pasai.

“Itu salah satu masjid tertua di Asia Tenggara, kami mengetahui bahwa Islam pertama kali masuk di Nusantara itu di Aceh, tentunya masjid tertua juga ada di sini,” kata Husaini Ibrahim Sejarawan Aceh dari Universitas Syiah Kuala yang dikutip dari Tagar.

Ia pun tidak membantah bahwa cikal bakal masjid ini berawal dari pengaruh kerajaan Hindu pada waktu itu. Lalu, takluknya kerajaan Lamuri dan Indrapurwa oleh Kerajaan Aceh Darusalam di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah.

Kemudian menyita seluruh aset milik kerajaan tersebut. Setelah itu, ada bangunan pra-Islam yang di-Islamkan termasuk masjid Indrapuri.

“Di atas cikal bakal Indrapuri, ada pengaruh di sana untuk di-Islamkan, jadi ada proses Islamisasi ketika kerajaan Hindu takluk,” kata Husaini yang juga penulis buku dengan judul ‘Awal Islam Masuk ke Aceh’.”

Karena itu menurutnya tidak heran dengan berkembangnya Islam di Nusantara, tumbuh masjid-masjid lain yang menyerupai corak bangunan seperti masjid Indrapuri.

Husaini memberi contoh seperti masjid tua yang ada di Banten, Demak, dan daerah lain, bahkan sampai negeri jiran, Malaysia.

“Kalau kami lihat itu mirip sekali dengan masjid Indrapuri, karena cikal bakalnya di sini (Aceh),” ucapnya.

Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Tapi juga sebagai tempat bermusyawarah dan penetapan raja pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam. Masjid ini juga menjadi tempat dilantiknya sultan terakhir Aceh, Teuku Muhammad Daud Syah pada 1978.