Masjid Al Osmani, Simbol Kejayaan Kesultanan Melayu

Masjid Al Osmani yang berdiri megah di Kota Medan, Sumatera Utara, tidak hanya dibangun dengan arsitektur bercorak budaya Melayu, tapi juga mengandung nuansa budaya Eropa, India, dan Timur Tengah.

SISIBAIK.ID – Masjid Al Osmani adalah bagian tak terpisahkan adalah jejak kekayaan Islam di tanah Melayu. Masjid cantik yang berdiri kokoh di Jalan K L Yos Sudarso, Kelurahan Pekanlabuhan, Kecamatan Medanlabuhan, Kota Medan, Sumatera Utara ini juga terkenal dengan nama Masjid Labuhan.

Masjid Al Osmani berada sekitar 21 kilometer jaraknya dari pusat Kota Medan. Berada di tepi jalan yang padat kendaraan, para pengguna jalan yang melintas pasti akan menoleh sebab warna kuningnya begitu mencolok, khas Melayu.

Usia yang sudah menginjak 167 tahun tak memudarkan keelokan masjid di kawasan Medan Utara ini. Masjid tertua yang ada di Kota Medan ini menyimpan banyak cerita sejarah yang sayang untuk dilewatkan.

Sejarah Pembangunan Masjid

Dilansir dari laman kontraktorkubahmasjid, Masjid Al Osmani sengaja didominasi dengan warna kuning. Warna ini merupakan simbol kejayaan Kesultanan Melayu pada masa itu.

Masjid ini menjadi masjid tertua di Kota Medan karena dibangun lebih dulu dari Masjid Raya Al Mashun atau yang dikenal dengan Masjid Raya Medan.

Masjid Al Osmani dibangun pertama kali oleh Sultan Osman Perkasa Alam (Sultan Deli Ke-7) pada tahun 1854 Masehi. Namun, putra beliau yang kemudian menyelesaikan pembangunan masjid ini karena pada saat pembangunan masjid belum rampung, Sultan Osman Perkasa Alam sudah meninggal.

Masih dilansir dari laman kontraktorkubahmasjid, Sultan Osman Perkasa Alam yang merupakan Sultan Deli ketujuh membangun masjid ini pada tahun 1854. Masjid ini dulunya berada tepat di depan Istana Kesultanan Deli di Labuhan.

Pembangunan Masjid Al Osmani bertujuan agar Kesultanan Deli memiliki sebuah masjid khusus untuk keluarga kesultanan. Masjid ini dibangun dengan bahan-bahan kayu yang berkualitas, yang kemudian pada tahun 1870 mulai dibangun secara permanen oleh putra beliau, Sultan Mahmud Perkasa Alam (Sultan Deli kedelapan).

Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Perkasa Alam, masyarakat di sekitar kesultanan tersebut memiliki penghidupan yang sangat layak dan makmur. Maka tidak heran jika pada masanya, pembangunan masjid ini bisa maksimal, dengan kemegahan meskipun dibangun pada abad ke-19.

Arsitektur Perpaduan Empat Budaya

Dilansir dari laman genpi.co, masjid ini memang mayoritas berwarna kuning sejak pertama kali dibangun oleh Sultan Deli ketujuh. Warna kuning yang ada pada masjid adalah warna kebanggaan Suku Melayu yang memiliki arti kemuliaan dan kemegahan. Perpaduan warna hijau yang ada menggambarkan simbol keislaman.

Masjid Al Osmani tidak hanya dibangun dengan arsitektur bercorak budaya Melayu saja, namun budaya lain pun nampak jelas terlihat pada bangunan masjid. Bangunan masjid ini ternyata juga memiliki gaya arsitektur dan motif yang mengandung nuansa budaya Eropa, India, dan Timur Tengah.

Kapasitas Masjid Al Osmani dapat menampung hingga 1.000 jemaah. Masjid itu juga sudah ditetapkan sebagai masjid tertua dan menjadi Cagar Budaya Medan pada 2016 lalu.

Dibangun oleh Arsitek dari Jerman

Meski Masjid Al Osmani telah berusia lebih dari 1,5 abad namun keelokan masjid tertua di Kota Medan ini tidak pernah memudar. Masjid Al Osmani adalah karya dan buah tangan arsitek Jerman yang bernama GD Langereis.

Saat itu, Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam meminta Langereis merenovasi masjid yang masih berbentuk bangunan sederhana dari kayu dalam tempo tiga bulan.

Permintaan Sultan pun terpenuhi dengan lahirnya bangunan megah yang kuat unsur arsitektur India, Tiongkok, Timur Tengah, Eropa dan Melayu ini. Masjid ini awalnya hanya rumah panggung dari kayu seukuran 16×16 meter.

Banyak Mengalami Renovasi

Di masa Sultan Mahmud, mulai dari tahun 1870 hingga tahun 1872, masjid ini mengalami banyak perombakan. Setidaknya masjid ini mengalami tujuh kali renovasi.

Mulai ukuran dan luas, desain bangunan, sampai bahan bangunan. Meski berkali-kali mengalami pemugaran, arsitektur asli dari bangunan masjid ini tetap dipertahankan.

Pada pintu masjid digunakan ornamen Tiongkok, ukiran di setiap bangunan bernuansa India, arsitekturnya ala Eropa, dan ornamen-ornamennya bernapaskan Timur Tengah.

Kubah masjid yang terbuat dari tembaga bersegi delapan berumur seabad lebih mengikuti gaya India yang beratnya mencapai 2,5 ton.

Terdapat Makam Keluarga Kesultanan Deli

Masjid Al Osmai menyimpan banyak sekali cerita sejarah dari Kesultanan Deli. Masjid ini kini menjadi saksi bisu sejarah, di mana di halaman depan dan samping masjid terdapat pusara keluarga kesultanan.

Lima Raja Deli yang dimakamkan di pusara ini yaitu Tuanku Panglima Pasutan (Raja Deli IV), Tuanku Panglima Gandar Wahid (Raja Deli V), Sultan Amaluddin Perkasa Alam (Raja Deli VI), Sultan Osman Perkasa Alam, dan Sultan Mahmud Perkasa Alam. Dan termasuk makam permaisuri dari Kesultanan Malaysia.