Masjid Raya Sultan Riau dan Kisah Telur Jadi Perekat Bangunan

Salah satu peninggalan kerajaan Riau yang masih tersisa dan terawat dengan baik adalah Masjid Raya Sultan Riau.

SISIBAIK.ID – Masjid Raya Sultan Riau adalah tonggak kebesaran Islam Bumi Lancang Kuning, Riau. Masjid megah dengan dominasi warna kuning ini berdiri tegak di Pulau Penyengat, berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari TajungPinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau.  

Kisah pembangunan masjid Raya Sultan Riau ini cukup menarik untuk disimak. Tak hanya ada pasir yang sengaja di bawa langsung dari Tanah Suci Mekkah, namun masjid cantik yang terbuat dari putih telur.

Dengan warna kuning dan hijau yang dominan, penampakan Masjid Raya Sultan Riau tampak lebih menonjol dibandingkan dengan bangunan lain di sekelilingnya. Warna kuning melambangkan kesejahteraan, sedangkan warna hijau merupakan simbol agama.

Awalnya masjid Raya Sultan Riau adalah sebuah bangunan dari kayu. Letaknya di atas bukit kecil tak jauh dari pantai pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau. Hari dimulainya membangun masjid kayu itu tercatat pada pagi hari tanggal 7 rabiul awal 1218 tahun hijriah (1803 masehi).

Untuk menampung jamaah yang makin lama makin melimpah, masjid lama sudah tidak lagi memadai. Karena itulah Raja Jafaar memerintahkan untuk memperbesar bangunan yang lama dan letaknya diundurkan ke darat.

sejarah pembangunan MAsjid

Adalah  Yang Dipertuan Muda Raja Abdul Rahman (1831-1844) pada hari raya idul fitri 1 syawal 1248 H (1832 M) memberitahukan kepada seluruh rakyat agar beramal di jalan Allah  untuk membangun sebuah masjid yang kokoh di tapak masjid lama.

Lalu berdatanganlah orang dari seluruh ceruk dan pelosok teluk, rantau , pulau dan dari kawasan laut ke pulau Penyengat. Mereka datang untuk bekerjasama membangun masjid yang megah. Tak hanya tenaga yang dibawa tapi juga persediaan makanan yang melimpah ruah, terutama beras, sagu, sayur mayor, ikan, kambing, ayam dan telur.

Putih telur Jadi perekat Bangunan

Yang Dipertuan Muda Raja Abdul Rahman bersama dengan 5.000 orang memulai pembangunan pondasi masjid itu. Laki-laki dan perempuan bekerjasama selama 7 hari 7 malam, dari malam hari sampai subuh.

Selama 7 hari itu, para lelaki dilarang keluar kecuali penjaga keamanan. Setelah dikerjakan secara marathon pondasi masjid setinggi 7 hasta selesai selama 3 minggu.

Lalu pembuatan bangunan induk dipimpin oleh tukang yang terdiri dari orang India yang didatangkan dari Selat (Singapura). Saat itu tersohor cerita terlalu banyak tersedia telur untuk makanan bagi orang-orang yang bekerja. Sehingga tukang itu menyarankan supaya putih telur yang berlimpah dicampur dengan semen sebagaimana yang biasa dilakukan di India. Itulah sebabnya bangunan Masjid menjadi sangat kokoh.

Asitek Unik

Masjid ini dibuat dengan bentuk unik. Setelah orang menaiki tangga depan atau tangga samping terlihat sebuah halaman sebelum masuk ke bangunan utama.

Masjid Raya Sultan Riau pun masjid kubah beton cor pertama di Indonesia. Bangunan utama masjid berukuran 18 x 20 meter. Kubahnya berjumlah 13 buah yang berbentuk seperti bawang. JIka ditambah dengan jumlah menara, total ada 17 buah menara dan kubah di masjid ini. Angka tersebut melambangkan jumlah rakaat salat selama sehari semalam.

Seluruh komplek masjid termasuk halaman atas panjangnya 54,40 meter dan lebarnya 32,20 meter. Bangunan induk tempat shalat panjangnya 29,30 meter dan lebarnya 19,50 meter, disangga oleh 4 buah pilar beton.

Lantai bangunan induk dibuat dari batu bata tanah liat empat persegi warna kemerah-merahan. Bumbungan masjid berbentuk kubah sebanyak 13 buah Bersama dengan 4 buah menara, jumlah bumbungan menjadi 17 yang diartikan sebagai 17 rakaat shalat dalam sehari semalam.

Keempat menara masjid tingginya 18,90 meter dari dasar tanah. Dinding dan pagar besi 2 buah menara di sebelah depan berbentuk bundar, ada tangga pusing (tangga berputar) untuk naik tingkat pertama dan tangga kayu untuk naik ke tingkat diatasnya. Di kedua menara ini dulu para muazzin menyerukan azan dari dalam masjid.

Dua buah menara sebelah belakang, dinding dan pagarnya dibuat bersegi-segi. Baik untuk tingkat pertama dan tingkat kedua tidak diberi tangga sehingga kedua menara itu senantiasa dikunci pintu-pintunya.

Konon, mimbar lama masjid pulau Penyengat dibuat dari besi tukang berukir, dindingnya logam berkerawang, di bagian atasnya memakai tutup dari papan berukir timbul yang disepuh dengan timah putih.

Lalu mimbar itu diganti dari kayu jati berukir. Mimbar ini memiliki kembaran, salah satunya diletakkan di masjid Daik di Pulau Lingga, Riau. Mimbar ini agak kecil dibandingkan dengan mimbar di masjid pulau Penyengat.

Di dekat mimbar itu disimpan seceper pasir yang berasal dari tanah Makkah. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua. Sampai sekarang pasir ini masih sering dipakai untuk upacara jejak tanah.

Alquran tulisan tangan

Ada dua buah Alquran tulisan tangan yang tersimpan dalam masjid Pulau Penyengat. Alquran yang pertama dipajang dalam sebuah peti kaca ialah hasil goresan tangan Abdurrahman Stambul, seorang penduduk pulau Penyengat yang pernah dikirim oleh kerajaan Riau Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama.

Sekembalinya dari belajar dia menjadi guru dan terkenal dengan khat gaya Istambul. Pada tahun 1867 dia menyelesaikan penyalinan Alquran yang dikerjakannya sambil mengajar.

Alquran tulisan tangan yang lain disimpan dalam lemari Khutub Khanah Marhum Ahmadi, bertahun 1166 Hijriah yaitu bersamaan dengan tahun 1752 M. Di luar bingkai tulis terdapat tafsir yang ditulis dengan huruf kecil-kecil.

Peninggalan lainnya dari masa Kesultanan Riau Lingga di Masjid Raya Sultan Riau ialah 25 helai hamparan permadani Istambul yang sebagian masih dapat dilihat.

Selain itu masih terdapat sebuah lampu gantung yang disebut “kraun” (berasal dari kata crown), terbuat dari kaca potong halus dan indah. Biasanya dipasang ketika memperingati hari-hari besar Islam. Lampu ini hadiah dari Gubernur Jenderal Belanda Jean Christian Baud.

Namun peninggalan paling berharga di masjid ini ada di dalam dua lemari yang terdapat di ruangan depan masjid. Lemari yang di pintunya terdapat kaligrafi. Lemari ini milik Yang Dipertuan Muda X Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi.

Di dalam lemari terdapat ratusan kitab dan buku yang dikumpulkan oleh Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, nama yang diabadikan menjadi nama Gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah Kepulauan Riau.