Menyelamatkan Bumi, Menghidupkan Gaya Hidup Lestari

Pemimpin terbaik adalah pemimpin yang bisa memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu.

SISIBAIK.ID “Ini lebih buruk, jauh lebih buruk, dari yang Anda pikirkan.” Begitulah kalimat pertama jurnalis AS, David Wallace-Wells, dalam bukunya ‘The Uninhabitable Earth: Life After Warming’.

Menurut Wallace-Wells, permasalahan lingkungan sekarang, dari kebakaran hutan hingga ekosistem laut yang mulai mati, hanyalah pratinjau dari perubahan-perubahan yang akan datang. Jika gaya hidup kita tidak berubah secara drastis, bukan tidak mungkin sebagian dari bumi tidak akan bisa dihuni lagi.

Di Indonesia, bukankah hal tersebut sudah terjadi? Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada 2019, jumlah luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 1.649.258 Ha (hektar). Meski angka turun menjadi 296.942 Ha di tahun 2020, hal ini tetap menjadi urgensi kita saat ini. Sebagai masyarakat madani kita perlu menanamkan kesadaran diri. Apa yang kita kerjakan dan ciptakan saat ini, bahkan di detik ini, akan menentukan keberlanjutan bumi.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Pemimpin terbaik adalah pemimpin yang bisa memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu. Oleh karena itu, sebagai Green Leaders, kami percaya kesadaran dan perubahan harus dimulai dari lingkup terkecil. Yaitu diri sendiri. Menerapkan gaya hidup lestari, dari menanam pohon hingga mengolah limbah pribadi. Terutama mengurangi konsumsi. Tujuannya, agar gaya hidup lestari menjadi tren masa kini.

Kami juga sadar, perubahan di level budaya dan norma di masyarakat biasanya mendahului perubahan politik. Harapannya, budaya baik yang mengakar tidak akan mudah berubah nantinya oleh keadaan politik yang hakikatnya selalu berganti. Maka penting merubah kesadaran pribadi tadi menjadi kesadaran kolektif. Dari RT dan RW, ke desa-desa, ke provinsi, ke level nasional, bahkan internasional. Pendekatan yang humanis, dari manusia ke manusia. Dari hati ke hati.

Tambah lagi, akibat Covid-19, dunia juga lebih sering menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan satu sama lain. Bak dunia tanpa sekat, menuangkan ide dan asa, berkolaborasi dan beraksi, bisa dilakukan lintas waktu, tempat, sektor, dan generasi. Terbukti, kita juga bisa membangun semangat kolektif menggunakan teknologi.

Namun, pemanfaatan teknologi untuk kampanye media sosial maupun hal lainnya, seperti pendataan atau pengelolaan lingkungan hidup tidaklah cukup. Bahkan tetap berpotensi merusak jika tanpa didasari wawasan kebangsaan.

Wawasan kebangsaan seperti apa yang kita butuhkan?

Sebuah studi yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkapkan kalau manusia telah membentuk tiga perempat alam terestrial selama dua belas ribu tahun terakhir. Namun, dengan beberapa pengecualian, hilangnya keanekaragaman hayati saat ini disebabkan oleh perampasan, kolonisasi, dan intensifikasi penggunaan lahan yang telah dipertahankan oleh masyarakat sebelumnya. Maknanya, jauh sebelum itu, nenek moyang kita sudah sangat lama hidup berdampingan dengan alam tanpa banyak merusaknya. Maka jika ingin menyelamatkan bumi, mengakui dan mendalami kebijaksanaan leluhur dan masyarakat adat kita dalam memelihara lingkungan dan keanekaragaman hayati sudah sepatutnya menjadi bagian dari wawasan kebangsaan ini.

Gaya hidup hijau bisa ngetrend lagi. Kehadiran manusia bisa menjadi baik bagi bumi lagi. Caranya? Mulai dari diri sendiri. Didasari cinta kita terhadap alam, dan dari hati ke hati. Yuk ikut ambil aksi bagi alam yang lestari!

Penulis: Peserta Green Leadership Indonesia Kelompok Sahabat Hijau Bumi (Dika Surya Pratama, Nida Nur Azizah Karina, Bianca Carissa, Mustika Indah Khairina, Andra Ade Riyanto, Muhammad Noor Fitriyanto, Andri, Subur Pujiono, Steven Golorem, Ola Kakion, Bayu Wisnu Mukti, Yesaya Putra Pamungkas.