Emmy Hafild, Sosok Legenda dalam Isu Lingkungan

SisiBaik.ID – Pada 2 Juli 2021, pukul 05.30 WIB ada telpon berdering dari Kang Jamet. Dia mengabarkan kalau Mbak Emmy Hafild sudah ditidurkan sejak pukul 00.00 WIB. Kabar bahwa Mbak Emmy kondisinya naik turun sudah kami dengar, namun kabar pagi itu sungguh menyesakkan, entah kenapa.

Lalu saya telp Ovi, Mbak Ijul dan Mbak Hanni. Semua sedih dan kita sepakat untuk mendoakan yang terbaik.

Sejak 2 Juli 2021 di Group Whatsup ramai update tentang kondisi Mbak Emmy. Dimana update informasi didapat dari Mbak Hanni atau dari keluarga via Ovi.

Tanggal 3 Juli 2021 malam hari, ada doa bersama dimana Mbak Sandra menjadi moderator. Saya japri ke Mbak Sandra agar kita baca Al Fatihah buat Mbak Emmy. Saat itu hati saya tak menentu, Mbak Emmy seperti mau pergi, air mata saya tak bisa dibendung sejak ba’da Isya’.

Saya sampaikan ke Mbak Sandra agar Kang Jamet yang membacakan, karena saya pasti sangat emosional. Namun Mas Jamet tidak ada dalam forum itu. Saat masih ada yang bicara, kabar duka masuk. Innalillahi Wa’inna Ilihi Rojiun, Mbak Emmy telah kembali kepada Sang Pencipta Allah SWT pada saat kita sahabat-sahabat dan muridnya mendoakan.

Perkenalan Awal
Pada Juni 1998 saya dan suami (Mas Yanuar) pulang dari NTT, karena suami saya dipindahtugaskan dari Dolog NTT ke Dolog DKI. Saya yang tengah hamil tiga bulan tak tahan di rumah dan ingin berkegiatan.

Lalu saya buka satu persatu kontak yang pernah saya wawancara pada saat saya sebelum ke NTT dan menjadi Jurnalis TIRAS. Kutemukan kontak Direktur WALHI. Lalu saya menelepon Kantor WALHI yang di Tegal Parang. Kala itu yang menerima adalah Kang Jamet dan disambungkan dengan Direktur WALHI yang saat itu adalah Mbak Emmy.

Dalam pembicaraan singkat Mbak Emmy bertanya, dimana sebelumnya saya bekerja. Saya sampaikan bahwa saya sebelumnya wartawan, Mbak Emmy langsung bilang. “Senin kamu kesini, saya butuh orang untuk mengurus media dan komunikasi,” katanya.

Enam bulan setelah saya di WALHI, saya cuti melahirkan. Dan sebelum tiga bulan Mbak Dhini yang saat itu Sekeretaris Mbak Emmy datang ke rumah, minta saya kembali ke WALHI melanjutkan pekerjaan. Mulai hari itulah saya di WALHI lebih dari 6 tahun dimasa kepengurusan Mbak Emmy dan Bang Longgena Ginting.

Pengkader Sejati.
Saya adalah salah satu staff yang berkantor di WALHI Tegal Parang. Dimana setiap hari kita berinteraksi dengan Mbak Emmy, sosok yang unik dan  sangat kami segani. Kantor WALHI Tegal Parang  ada dua lantai, dan saya dengan beberapa teman di lantai dua. Namun kalau Mbak Emmy sudah datang, kami akan bersiap di panggil melalui panggilan telepon. Dan kami akan senang dan bersorak kalau lolos dari panggilan.

Misalnya, Jokoooo… Heningg… Yaya… Ovi… Jamet… Raja… Budi dan seterusnya. Setiap kami dipanggil, hampir pasti akan ditanya pekerjaan. Bahasa kami kita akan diomelin dan dimarahi. Kadang-kadang speakernya lupa dimatikan, sehingga omelan Mbak Emmy akan didengar sekantor. Dan hal-hal itu akan menjadi kenangan tak terlupakan berikutnya.

Kami sering berharap Mbak Emmy lupa pada apa yang disampaikan sebelumnya. Namun tidak pernah dan tidak akan pernah lupa. Mbak Emmy mempunyai daya ingat yang luar biasa.

Teman-teman se-angkatan punya preferensi untuk hebat dalam satu isu. Misalnya Indah di isu tambang, Yaya di isu hutan, Radja di isu kelautan, dan lain-lain. Namun hal itu tidak buat saya. Saya menjadi generalis, dan ini menyebalkan.

Saya harus mengurusi media dimana orang yang saya urus sangat unik, cerdas, pemberani dan kadang membingungkan. Saya merasa menyerah mengikuti pola pikir Mbak Emmy. Terlebih WALHI adalah NGO yang pemberani dan pada saat-saat itu pada titik puncak mengkrikisi pemerintah dalam banyak hal. Mulai dari masalah Freeport, Inti Indorayon, Kali Banger, kebakaran hutan dan meluas pada isu Demokrastisasi, Gender dan HAM.

Saya pusing mengikuti Mbak Emmy karena bahan siaran pers atau analisa selalu dianggap kurang, bolak-balik dan diangggap tidak sempurna. Beliau bilang harus dihubungkan politik, isunya kurang dalam, posisinya WALHI dimana, dan seterusnya.  

Meski deg-degan, namun saya belajar dari setiap apa yang beliau sampaikan, saya berusaha menyimak. Pada akhirnya saya belajar banyak dari Mbak Emmy tentang keperpihakan, politik dan strategi.

Hal lainnya, bertahun-tahun saya selalu ‘ngintil’ dengan Mbak Emmy di banyak jaringan NGO dan pertemuan. Membuat saya banyak bersyukur karena kenal banyak jaringan dan ikut memahami pola-pola gerakan. Mbak Emmy adalah connecting people  yang hebat.

Saat Soeharto turun, Mbak Emmy diserang media. Media menyampaikan bahwa Mbak Emmy menyembah Gus Dur dan beritanya menyeruak dimana-mana. Mbak Emmy dikritik pedas karena dianggap takluk penguasa. 

Pagi itu sekitar pukul 5.30 WIB Mbak Emmy telepon ke rumah dan menyampaikan ke suami saya kalau mau bicara dengan saya. Nah karena tak biasayanya beliau telepon kerumah. Suami bilang kalau Mbak Emmy minta ijin agar saya ke kantor pagi-pagi. Waah situasi genting pikirku.

“Media salah tulis dan itu harus diluruskan,” pesan Mbak Emmy.

Lalu saya janjian sama Mbak Emmy di kantor dan dibantu kawan-kawan Tanah Air mencari semua media yang menuliskan berita Mbak Emmy – Gus Dur. Saat itu yang harus dilakukan adalah meluruskan pemberitaan.

Maka setelah ngobrol dengam beliau diputuskan ada konfereni pers dan silaturahmi media. Untuk yang  pertama di WALHI. Di situ Mbak Emmy menjelaskan bahkan mempraktikkan, bahwa yang dilakukan Mbak Emmy adalah jongkok di depan. Beliau menganggap  Gus Dur sebagai orangtua sehingga beliau jongkok untuk menghargai bukan menyembah.

Namun hasil konferensi pers tersebut tak memuaskan Mbak Emmy. Kami lanjut dengan strategi kedua, yakni silaturahmi yang dilakukan di LIPI. Sebelum mulai mbak Emmy menyerahkan banyak kaca kecil (berbentuk segi empat yang biasa dipasang di rumah).

“Mbak ini buat apa?” tanyaku saat itu. “Ini buat ngaca, biar wartawan itu ngaca. Mereka tidak tahu diri, mereka payah, masa tidak bisa menerima penjelasan. Mereka biar ngaca nih,” katanya sewot.

Waduhhh bahaya nih pikirku kalau sampai diberikan, hancur nih reputasi Mbak Emmy. Sekuat tenaga saya berargumen pada Mbak Emmy. Sampai saya bilang, “Mbak maaf kali ini Mbak Emmy harus nurut sama saya.”

Mbak Emmy kelihatan jengkel dengan saya, namun akhirnya menyerah. Kaca tidak dikeluarkan dan tidak dibagikan ke wartawan hingga saat berakhir silaturahmi dengan wartawan.

Peristiwa lain adalah saat ada arus pengungsian besar-besaran di Aceh. Saya ditugaskan Mbak Emmy berkoordinasi dengan Komnas HAM dan panitia serta kantor Presiden. Lalu saya diminta berkantor di Medco selama tiga bulan.

Dari Komnas HAM saat itu adalah Almarhum Bapak Hasbalah M. Saad dan beberapa kurator seni yang saya tak ingat lagi, namun beliau-beliau adalah alumni ITB.  Saat di Medco, kalau pagi sering disapa ramah oleh Pak Helmi Panigoro. Sungguh saat itu saya kagum sama beliau. Masih muda, keren dan baik.

Saat itu saya tengah hamil anak kedua, saya bahkan berdoa agar anak saya hebat seperti Helmi Panigoro. Pameran berlangsung dengan baik dan dibuka oleh Presiden RI yang saat itu adalah  Gus Dur. Donasinya disampaikan kepada pengungsi Aceh melalui rekening WALHI.

Kampanye Komodo.
Pada saat saya sudah menjadi Direktur HFI, Mbak Emmy mengurus kampanye Komodo untuk dijadikan sebagai salah satu keajaiban dunia. Suatu siang, tumben banget beliau telepon. Saya ditanya apakah sibuk dan apakah masih ada waktu membantunya mengurus kampanye? Beliau juga bilang ini volunter.

Hampir tidak mungkin menolak Mbak Emmy. Dan satu-satunya jawaban adalah saya bisa, namun tidak bisa full time. Lalu beliau meminta saya ke rumahnya, katanya mau debriefing. Namun di tengah jalan beliau mengabari agar saya menyusulnya di suatu tempat.

Saat sampai tempat pertemuan, ternyata disana ada Pak Jusuf Kalla (JK). Beliau mengenalkan saya ke Pak JK dan bilang, “Ini Hening yang bantu saya mengurus kampanye,” katanya.

Setelah pertemuan selesai, saya protes ke Mbak Emmy. Mbak ini pekerjaan berat, lah saya nggak paham isunya. “Sudah kamu pasti bisa, ini lebih ringan dari pekerjaanmu di WALHI,” demikian  lanjutnya. Mulai saat itulah saya berkenalan dengan Kak Liang, Bu Widya dan Mbak Avanti mengurus kampanye Komodo.

Begitulah Mbak Emmy Hafild selalu menjebloskan saya ke banyak hal yang saya sendiri sering merasa takjub, bingung dan bahkan sering merasa tak mampu. Namun cara beliau menjeboskan saya ke banyak hal kusadari bahwa itu adalah cara unik mengkader diriku.

Saya bangga dan bersyukur pada akhirnya, beliau adalah guru yang baik. Saya banyak belajar cara berkampanye dan membawa isu ke publik. Kemampuan advokasi saya terasah, saya belajar memahami isu lingkungan dan politik. Saya belajar bagaimana berpihak pada rakyat kecil dan banyak lagi.

Bahkan saat kampanye Moratorium Logging pada masa Direktur WALHI Bang Longgena Ginting, saya merasa bahwa ilmu di masa Mbak Emmy sangat jitu. Karena sukses membawa isi Moratorium Logging sampai Presiden Megawati.

Menjelang akhir periode beliau, teman-teman  seangkatan saya menjadi manager. Tiba-tiba saya mendapatkan jabatan bernama Asisten Direktur Bidang Humas dan Media. Saya senyum-senyum dengan jabatan itu. Bukan puas, namun merasa ini mah jabatan yang diada-adakan agar saya tetap dekat Mbak Emmy. Tak apalah pikirku. Kang Elyasa Darwis adalah sahabat yang sering ke WALHI dan kami sering ketawa-ketiwi kalau membahas jabatan ini.

Saat mengurus media dan komunikasi publik, saya juga menemani mas IGG Maha Adi menulis Sejarah Gerakan Lingkungan. Disitu saya berkomunikasi dengan banyak orang dan mendapatkan cerita sejarah Gerakan Lingkungan Indonesia. Karena menghubungi banyak pendiri WALHI dan banyak tokoh lingkungan. Mulai dari George Adji Tjondro, Pak Emil Salim, Mbak Erna, Sam Bimbo dan banyak lagi. Cerita Gerakan lingkungan selalu menarik. Alhasil ketertarikanku pada Gerakan membawaku untuk belajar di INSIST di bawah almarhum Masyur Faqih.  

Hal yang menurutku menyebalkan juga adalah saat mendapat tugas menjadi Ketua Panitia Ulang Tahun WALHI. Tugas ini kupandang menyebalkan saat itu, karena harus minta dana ke banyak alumni WALHI. Namun hikmahnya lagi-lagi saya menjadi kenal banyak orang dan jaringan. Sehingga tak jarang saya menjadi penghubung antara senior WALHI dengan WALHI Jaman Now.

Begitulah Mbak Emmy, kita punya perasaan jengkel saat itu, kita merasa sangat kerja keras, kita merasa bahwa ini nggak adil. Namun ternyata beliau mendidik kita dengan keras dan itu membuat nama Mbak Emmy melekat erat di hati saya dan kawan-kawan. Membicarakan Mbak Emmy adalah membicarakan sosok yang tiada habisnya karena unik, cerdas dan kontroversial. Bagi saya dan kawan-kawan  ABLEH (Anak Buah Langsung Emmy Hafild) membicarakan Beliau selalu akan berakhir dengan tawa. Mbak Emmy adalah sosok yang tahu bagaimana melihat kelebihan dan kelemahan anak didiknya sehingga akan menjadi ‘seseorang’ di masa depan.

Hening Parlan, alumni WALHI Angkatan 1998 – 2013