Pemuda Cirebon Raih Cuan dari Ternak Jangkrik

SisiBaik.ID – Seorang pemuda di Desa Girinata, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon hasilkan jutaan rupiah dari usaha ternak jangkrik. Pemuda yang bernama Hamzah ini menjelaskan bahwa usaha budidaya ini dirintis bersama keluarganya Mulai bulan Desember 2020.

“Usaha ini awalnya dirintis bapak pada bulan Desember 2020,” kata seperti dilansir Ciayumajakuning.ID, Minggu (17/10/2021).

Hamzah mengatakan, bahwa awalnya sang bapak bekerja sebagai supir taksi online di ibu kota. Namun karena pandemi, penghasilan yang didapatkan menurun drastis. Akhirnya sang bapak pulang dan mulai mencoba ternak jangkrik.

“Awalnya bapak itu kerja di Jakarta jadi sopir taksi online, namun pulang karena sepi efek pandemi. Terus mulai bikin usaha budidaya jangkrik ini,” ucap Hamzah.

Pada saat memulai budidaya, Hamzah hanya memiliki 4 kotak kandang untuk pembesaran jangkrik. Kini kurang dari setahun, Hamzah memiliki total 16 kotak kandang jangkrik. Masing-masing kadang dapat menghasilkan 30-40 kilogram Jangkrik setiap panen.

“Awalnya cuma ada 4 kotak kandang. Kini sudah ada 16 kotak yang ada di tempat budidaya jangkrik. Setiap kotak itu bisa 30-40 kilogram jangkrik setiap panen,” tutur Hamzah.

Saat ditanya mengenai omzet perbulan, pria yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas itu menjawab kisaran 5-7 juta rupiah. Omzet tersebut didapatkan dari hasil setiap bulan panen jangkrik di 16 kotak kandang yang Dia miliki.

“Kan panen itu sebulan sekali ya, mas. Kurang lebih ya omzet Rp 5-7 juta rupiah sebulan,” ucap Hamzah.

Kendati demikian, Tebe menjelaskan bahwa harga jangkrik saat ini mengalami penurunan. Hal itu karena masih jarangnya kontes burung yang digelar, membuat konsumen utama dari jangkrik ini enggan mengeluarkan kocek untuk membeli jangkrik.

“Sekarang harganya lagi turun, mas. Cuma Rp 16 ribu rupiah per kilogram. Biasanya bisa sampe Rp 20 ribu per kilogram,” kata Hamzah.

Hamzah juga menjelaskan bahwa saat ini ada sekitar 20 orang yang menjalankan usaha budidaya jangkrik di Desa Girinata. Usaha ini kian diminati karena proses yang terbilang mudah. Hanya saja dengan banyaknya pembudidaya membuat stok pelepah pisang menjadi sulit dicari.

“Sekarang ada sekitar 20 orang yang budidaya jangkrik di Desa Girinata. Tapi, jadinya susah nyari pelepah pisang untuk tempat tinggal jangkriknya,” ucap Hamzah.

Hamzah berharap bahwa budidaya jangkrik ini dapat terus berkembang dan dapat menjadi inspirasi untuk pemuda dalam memulai usaha.

“Semoga budidaya jangkrik ini bisa berkembang lebih besar lagi. Terus bisa menginspirasi yang lain untuk berani memulai usaha,” pungkas Hamzah.