Tenun Gadod Khas Majalengka Terancam Punah

SisiBaikID – Keberadaan pengrajin tenun di Kabupaten Majalengka terancam punah. Kain tenun Gadod tersebut berasal dari Desa Nunuk Baru Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka. Diketahui, pengrajin kain tenun tersebut tersisa satu orang bernama Emak Maya (80).

Siti Khodijah (21) keponakan dari Emak Maya mengatakan, Tenun Gadod sendiri merupakan kain yang dibuat dari bahan kapas.

“Tenun Gadod ini sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang dan sempat mengalami masa keemasannya,” katanya serti dilansir Ciayumajakuning.ID, Sabtu (18/9/2021).

Meski belum ada bukti tertulis mengenai sejarah dari Tenun Gadod ini. Dia mengaku cerita tentang kerajinan Tenun Gadod turun temurun.

“Memang sebenarnya tidak ada bukti tertulis cuma cerita turun menurun aja. Tapi tenun ini sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang,” kata Siti.

Awalnya Tenun Gadod yang berarti kuat dan tebal ini dibuat dengan menggunakan kapas alit alias kapas Jepang. Namun karena kapas tersebut sudah tidak lagi ditemukan di Desa Nunuk, perajin kemudian menggunakan kapas honje untuk membuat Tenun Gadod.

Siti menjelaskan proses pembuatan satu buah kain Tenun Gadod dibutuhkan waktu sekitar 7-10 hari. Pembuatan Tenun Gadod dimulai dari tahap pembuatan benang, pewarnaan hingga menghitung kebutuhan untuk satu kain masih dilakukan secara tradisional.

Cara-cara tradisional itulah yang kemudian menjadi ciri khas Tenun Gadod dan membedakannya dengan tenun-tenun lainnya yang ada, termasuk menanam sendiri kapas honje sebagai bahan baku Tenun Gadod.

“Seluruh proses pembuatan tenun dilakukan tradisional,” jelasnya.

Minimnya minat generasi penerus menjadi alasan kuat kerajinan tenun gadod terancam punah. Hanya Emak Maya, Siti Khodijah dan satu orang lain yang masih bertahan eksis membuat tenun gadod.

“Tadinya ada dua, Mak Maya sama Mak Kasti. Tapi Mak Kasti sudah almarhumah, sekarang regenerasi Tenun Gadod ini baru dua orang, saya sama teman saya,” ujar Siti.

Siti-pun berharap Tenun Gadod ini masih bisa terus eksis dan kembali ke masa keemasannya seperti dulu.

“Mudah-mudahan banyak yang masih tertarik sehingga eksistensi tenun gadod kembali muncul,” tutup Siti.