Waspada Covid-19 Varian Omicron di Indonesia

SISIBAIK.ID – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin baru saja mengumumkan varian Omicron sudah terdeteksi di Indonesia.

“Saya ingin menginformasikan informasi terbaru. Kemenkes semalam mendeteksi ada seorang pasien N terkonfirmasi Omicron pada 15 Desember 2021,” tuturnya dalam konferensi pers.

Lantas, apa itu Omicron yang baru diumumkan terdeteksi di Indonesia? Mengutip informasi dari situs resmi WHO, Omicron merupakan varian baru dari SARS-Cov-2, yang memiliki nama B.1.1.529.

Varian ini pertama kali terdeteksi dalam spesimen dari Botswana dan Afrika Selatan pada November 2021. Setelahnya, WHO memasukkan Omicron sebagai Varian of Concern (Voc) atau varian yang perlu diperhatikan.

Informasi yang dihimpun dari CDC menyebutkan, ada kemungkinan varian Omicron lebih mudah menyebar dibandingkan virus asli SARS-CoV-2. Namun jika dibandingkan dengan varian Delta, dampaknya masih belum diketahui.

Oleh sebab itu, ahli CDC memprediksi orang yang terinfeksi varian baru ini dapat menyebarkannya ke orang lain, meski mereka sudah divaksinasi dan tidak memiliki gejala.

Sementara bagaimana dengan dampak yang diberikan Omicron? Untuk sekarang, CDC menyebut masih diperlukan lebih banyak data untuk mengetahui seperti apa dampak dari varian baru Covid-19 ini.

Terkait efek vaksin menghadapi varian Omicron, CDC pun menyebut vaksin yang ada sekarang diharapkan bisa melindungi manusia dari gejala parah, rawat inap, hingga kematian akibat infeksi varian baru ini. Oleh sebab itu, vaksinasi dan booster bisa menjadi salah satu penting dengan kemuncul Omicron. Terlebih, saat merebaknya varian Delta, vaksin disebut efektif mencegah gejala parah, rawat inap, dan kematian.

Gejala Omicron Menurut Studi

Lalu sebenarnya seperti apa gejala Omicron? Gejala dari varian baru virus Covid-19 Omicron berbeda dengan jenis sebelumnya. Mengutip informasi dari Dailystar, data baru dari ZOE Study, sebuah program penelitian yang meminta orang yang terinfeksi untuk melaporkan gejala mereka melalui aplikasi, menunjukkan perubahan besar dalam tanda-tanda virus.

Bersin adalah salah satu gejala seperti pilek yang sekarang menjadi yang paling umum. Selain pilek ada juga sakit kepala, kelelahan, dan sakit tenggorokan. Temuan ini membuat para ilmuwan memperingatkan bahwa siapa pun yang merasa terkena flu harus tinggal di rumah, karena itu mungkin terinfeksi Covid-19.

Menurut Profesor Tim Spector, ilmuwan utama di aplikasi ZOE COVID Study, Omicron akan menjadi strain dominan di Inggris pada Natal dan di Tahun Baru. Selain itu, puncak kasus varian baru ini dapat lebih tinggi dari apa pun yang pernah ada sebelumnya.

“Seperti yang ditunjukkan data terbaru kami, gejala Omicron sebagian besar adalah gejala pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan bersin, jadi orang harus tinggal di rumah karena mungkin Covid-19,” tuturnya.

Menkes Ajak Masyarakat Patuh Prokes 3M

Menyikapi kehadiran Omicron, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, untuk mencegah terinfeksi Covid-19 termasuk varian Omicron, masyarakat harus patuh terhadap protokol kesehatan (prokes) 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Budi meminta masyarakat untuk selalu menggunakan masker. Pasalnya, masker sangat melindungi dari penularan. Selanjutnya, prokes terakhir yang harus diperhatikan yakni disiplin menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

 “Saya lihat banyak masyarakat kita yang masuk mal atau masuk restoran suka lupa pakai (PeduliLindungi) adalah kewajiban petugas untuk mengingatkan. Kenapa, karena ini membantu kita untuk menyaring kalau ada orang yang berpotensi menular tetapi tidak disiplin masih jalan-jalan keluar,” ujarnya saat memberi keterangan pers tentang “Update Penanganan Pandemi Covid-19” Senin 27 Desember 2021.

Selain itu, Budi juga mengimbau masyarakat sebaiknya tidak melakukan perjalanan ke luar negeri jika tidak darurat. Pasalnya, sumber penyakit Covid-19 ada di luar negeri. “Semua orang yang kembali dari luar negeri, kita lihat banyak terkena. Jadi lindungilah diri kita, jangan ke luar negeri,” ucapnya.