Ipda Rochmat, Polisi dengan 92 Anak Asuh

SISIBAIK.ID – Tak banyak polisi yang memilih jalan hidup seperti Ipda Rochmat Tri Marwoto. Bagaimana tidak, dari berpangkat Bripda, Rochmat rela menyisihkan waktu, biaya dan tenaganya untuk mengasuh, merawat dan membesarkan puluhan anak yatim maupun anak tidak mampu, sejak 2007 hingga.

Padahal, kehidupan Ipda Rochmat cukuplah sederhana, dengan rumah yang tidak bisa dibilang besar. Bangunan rumah miliknya yang ada di Dusun Jati, Desa Klagenserut, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun hanya terdiri dari ruang tamu, ruang tengah, dengan tiga kamar.

“Dari 2007 sampai akhir September lalu anak-anak masih hidup satu atap dengan saya. Tapi sekarang saya buatkan asrama. Biar lebih luas,” kata Ipda Rochmat dilansir jatimnow.com.

Tentu tak bisa dibayangkan bagaimana riuhnya suasana di sana. Apalagi, jumlah anak asuh Ipda Rochmat pada saat itu ada 79 anak.

Tak Dibedakan

Puluhan anak asuh itu hidup rukun, layaknya sebuah keluarga besar bagi Rochmat, istri, dan anak sematawayangnya. Tak ada perbedaan apapun. Keluarga besar ini bahkan makan dengan menu yang sama. Jika Ipda Rochmat makan tempe, anak asuhnya juga makan tempe. Jika makan ayam, semua juga makan ayam. Semua hidup layak, sejajar tidak ada perbedaan.

Ia pun memberikan perlakuan yang sama ketika ada persoalan dengan para anak asuhnya. Begitu pun dengan urusan uang saku. Semua sama rata.

“SMP dan SMA sepekan kami beri Rp 30 ribu. Uang bensin Rp 20 ribu. Untuk TK semintanya si anak,” katanya.

Ipda Rochmat bercerita, semua aktivitas itu bermula pada 2007 lalu. Ketika itu dirinya masih berpangkat Bripda. Saat itu, ketika sedang mengunjungi sahabatnya di Pacitan, anggota korps Bhayangkara ini bertemu seorang anak broken home di Pacitan. Gadis kecil itu ikut dengan neneknya yang secara ekonomi tidak berkecukupan.

“Saya ambil, saya sekolahkan di SD sampai lulus kuliah. Dan alhamdulillah lulus. Dari situ, banyak anak yang kemudian saya asuh,” jelas pria kelahiran Madiun, 27 Juni 1977 ini.

Atas izin istrinya, Hilmiya, dan anaknya, anak asuh Ipda Rochmat terus bertambah. Ada saja momen dimana dia bertemu anak asuhnya.

Ia menceritakan, saat dirinya sedang menempuh pendidikan sekolah perwira, ada tenaga kerja wanita (TKW) yang tiba-tiba mengirim pesan ke akun facebooknya. TKW tersebut meminta Rochmat untuk mengasuh bayi yang dikandungnya.

“Saya langsung menghubungi istri yang di rumah, untuk menerima jika ada yang mengantarkan bayi” ujarnya.

Dan memang benar, beberapa bulan kemudian ada orang yang mengantar bayi. Tapi yang mengantarkan bukan ibu kandungnya, bukan pula keluarga dari anak tersebut.

“Ya saya terima. Dan saya kasih nama Asyifa Ghumaisyah Arrozi. Saya asuh sama dengan yang lain,” urainya.

“Jumlah terakhir saat ini ada 92 anak asuh saya. Sekarang tinggal 9 karena sebagian sudah mandiri. Sudah bekerja dan ada yang sudah berkeluarga,” katanya kepada detikJatim, Rabu (30/3/2022).

Ipda Rochmat selalu menanamkan kepada diri anak kandung dan anak-anak asuhnya untuk bekerja keras dan pantang menyerah. Begitu juga, untuk bisa mendapatkan kehidupan yang layak setelah ditinggal orang tua. Semua bisa dicapai dengan mau usaha, doa dan belajar.

Dalam bahasa sederhana, kepada anak-anaknya, ia selalu menanyakan: pilih sate atau ketela? “Semua bisa menikmati sate, tapi harus usaha. Harus mau menyembelih, membersihkan. Tidak seperti ketela rebus yang tinggal ambil,” katanya berfilosofi.

Ipda Rochmat menjelaskan, sate atau ketela bermakna bahwa untuk mencapai sesuatu perlu ikhtiar dan kerja keras.

Hutang Bank hingga jualan buah

Bukan hal mudah bagi Ipda Rochmat yang pada 2018 lalu lulus sekolah perwira untuk menjaga agar dapur keluarganya tetap ngebul. Untuk mencukupi kebutuhan hampir seratus anak asuhnya, ia bahkan sempat berhutang ke bank, lalu hasilnya dibelikan kebun jagung, kebun cengkeh, kebun jahe.

Kebunnya berbuah, mulai jagung, jahe, cengkeh, durian. “Jika panen, semua dijual. Kemudian uangnya untuk menghidupi anak asuh saya. Untuk kebutuhan beras saya juga beli gabah. Baru saya giling sendiri,” tambahnya.

Usaha lain, lanjut dia, membuka kios buah, kios-kios perancangan. Dimana, jika pagi hari dijaga istrinya. Siang dan sore gantian dijaga anak asuhnya.

“Kalau mengandalkan gaji tentu belum cukup. Yang penting ikhlas. Alhamdulillah rezeki selalu ada. Pernah juga sempat gadaikan sertifikat, utang bank untuk biaya anak-anak,” ujarnya.

Rochmat yang saat ini telah memiliki 18 cucu dari 9 anak asuhnya yang telah menikah ini mengatakan, hal yang memotivasi dirinya untuk menjadi orangtua asuh adalah bekal di akhirat.

“Kewajiban kita sebagai makhluk hidup saling tolong menolong kepada semua orang. Karena nanti meninggal dunia kita tidak membawa apa-apa kecuali doa dari anak-anak kita,” papar Rochmat.

Prestasi dan Apresiasi

Berkat keikhlasannya mengasuh 92 orang anak itulah dia mendapatkan beragam keberuntungan. Dari kesatuan Brimob Detasemen C Pelopor Polda Jatim dia sempat dapat amanat bergabung di Polres Madiun sebagai Kanit Reskrim Polsek Kare.

Tahun lalu dia kembali mendapat tugas negara dari Divisi Hubungan Internasional Brigjend Pol Khrisna Murti menjadi bagian dari pasukan pengawalan bantuan kemanusiaan PBB.

Sejak 11 September 2021 hingga 14 September 2022 mendatang dia masih akan bertugas sebagai bagian dari pasukan pengawalan bantuan kemanusiaan PBB di Kota Bangui, Republik Centra Afrika.

“Alhamdulillah dapat tugas dari pak Krisna Murti untuk memfasilitasi secara cepat, penuh, dan aman pengiriman bantuan kemanusiaan. Yakni Perlindungan terhadap personel, instalasi, peralatan dan pergerakan milik PBB,” kata Rochmat.

Rochmat mengaku dirinya tidak menyangka, berkat keikhlasannya mengasuh puluhan anak asuh dia beberapa kali mendapatkan apresiasi. Mulai dari penghargaan dari atasannya, diberangkatkan umrah, hingga disekolahkan agar pangkatnya bisa naik.

“Alhamdulillah berkat disekolahkan Bapak Kapolda saya sekarang Ipda. Penghargaan selain dari Kapolda juga dari bapak Kapolri, Lemkapi (Lembaga Kajian Kepolisian), juga dari Kick Andy Heroes 2017,” pungkasnya.

Bripda Rochmat adalah sosok hebat yang mengajarkan kita tentang indahnya berbagai meski dalam keterbatasan.